Sebagian Besar Orang Indonesia Memutuskan Untuk Memotong Anggaran Belanja Untuk Liburan (Foto: Shutterstock)
Dream – Meskipun konsumen tak membatalkan perayaan liburan akhir tahun, perilaku belanja mereka berubah signifikan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Pada liburan akhir 2020, ada 52 persen konsumen memangkas pengeluaran.
Anggaran belanja liburan diperkirakan merosot 14 persen, menurut riset “ Holiday Shopping Trends Report” yang dilakukan oleh SurveySensum, dikutip dari keterangan tertulis pada Jumat 25 Desember 2020.
CEO SurveySensum, Rajiv Lamba, mengatakan, pihanya mengelar survei terhadap 500 responden di lima kota besar di Indonesia. Respondennya dibuat rata baik pria maupun wanita. Mereka ditanya tentang pengeluaran pada musim liburan akhir tahun.
“ Kami menemukan bahwa mayoritas konsumen berada dalam situasi keuangan yang lebih buruk pada tahun ini. Sebanyak 77 persen konsumen di Indonesia mengalami penurunan pendapatan akibat pandemi dan sekitar 67 persen konsumen mengalami penurunan pada tabungan mereka,” kata Rajiv di Jakarta.
Riset SurveySensum ini juga menunjukkan wabah COVID-19 telah mengubah momen liburan mereka. Sekitar 88 persen konsumen mengaku kegiatan berlibur mereka terdampak oleh COVID-19. Tak mengherankan aktivitas travelling, bersantai, pesta, dan hang out adalah aktivitas teratas masih akan merasakan dampak terberat.
Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang berbeda-beda pada setiap orang dan mereka berusaha untuk melalui masa ini dengan cara yang juga berbeda.
Sebanyak 64 persen konsumen lebih hati-hati dalam memilih, melakukan riset kecil sebelum mereka berbelanja, sementara 57 persen lainnya mencari cara untuk lebih banyak berhemat.
Tak jauh berbeda, 52 persen konsumen berganti merek dengan produk yang lebih murah, sedangkan 36 persen membeli produk dengan ukuran yang lebih besar.
Perubahan luar biasa dalam perilaku berbelanja ini disebabkan oleh 58 persen konsumen yang lebih memperhatikan stabilitas ekonomi secara umum, 42 persen mengkhawatirkan keamanan keuangan keluarga mereka, dan 33 persen telah mengurangi anggaran belanja untuk menabung lebih banyak.
“ Konsumen dari kelompok penghasilan yang lebih tinggi dan belum menikah cenderung tidak akan memotong anggaran mereka, sementara kelompok berpenghasilan rendah paling terdampak,” kata dia.
Kelompok berpengasilan yang rendah mengalami tingkat kesulitan paling tinggi. Setidaknya 55 persen dari mereka berencana untuk mengurangi belanja liburan akhir tahun ini. Penurunan pendapatan dan tabungan untuk kelompok ini jauh lebih buruk dibandingkan dengan kelompol lainnya dikarenakan sebesar 74 persen konsumen juga mengalami penurunan pendapatan rumah tangga mereka.
Yang tak kalah menarik dari hasil riset ‘2020 Holiday Shopping Trends report’ ini, kategori rekreasi dan kebutuhan sekunder seperti perjalanan santai, perawatan pribadi, minuman beralkohol, kado, perlengkapan rumah & dapur, dan kegiatan berbelanja akan berkurang drastis selama musim liburan ini.
Penemuan menarik lainnya adalah ketika responden mengungkapkan rencana liburan akhir tahun mereka. Hanya 37 persen konsumen di Indonesia yang berencana bepergian selama musim liburan 2020 ini jika dibandingkan dengan 88 persen konsumen yang berlibur pada tahun 2019.
Dari jumlah tersebut, 54 persen berencana untuk bepergian hanya ke kota-kota terdekat, dan yang bagian yang terpenting, sebesar 70 persen dari mereka berencana untuk bepergian menggunakan mobil atau kendaraan pribadi. Rencana untuk berlibur ke luar negeri hampir bisa diabaikan tahun ini.
Pergeserannya perilaku belanja konsumen ini dinilai berganti ke kategori digital. Terdapat peningkatan data seluler sebesar 48 persen. Layanan berlangganan meningkat sebanyak 29 persen.
Donasi, kegiatan game online, meningkat 26 persen. Peningkatan pada layanan e-learning juga terjadi sebesar 23 persen serta kategori gadget elektronik mengalami peningkatan sebesar 18 persen.
Kecenderungan konsumen terhadap format contactless demi keamanan dan kenyamanan juga tercermin dalam ‘2020 Holiday Shopping Trends report’. Konsumen khawatir jika berbelanja di toko. Menurut survei, ada 81 persen konsumen lebih suka berbelanja online untuk menghindari keramaian, 58 persen diantaranya mengemukakan bahwa mereka lebih memilih berbelanja secara online karena takut akan Covid-19.
“ Ketika berbicara mengenai kemungkinan kembali berbelanja seperti sebelum pandemic, 50 persen dari mereka merasa akan kembali melanjutkan rutinitas belanja dengan normal setelah memperoleh vaksin,” kata dia.
Bukan itu saja, 43 persen responden SurveySensum mengungkapkan keinginannya berbelanja online karena lebih aman, terhindar dari keramaian, lebih nyaman berbelanja dari rumah, harga yang lebih murah dan beragam, serta layanan pengiriman gratis.
Inilah yang membuat digital channel semakin digemari konsumen untuk berbelanja di musim liburan, sehingga industri e-commerce pun akan meraup peningkatan yang besar. “ Bahkan untuk kategori kebutuhan sehari-hari juga beralih ke belanja online,” kata Rajiv.
Fenomena itu membuat peningkatan 48 persen pada belanja data seluler, 16 persen peningkatan pada belanja ponsel, 15 persen peningkatan pada hadiah untuk keluarga, 14 persen peningkatan pada pembelian pakaian untuk pemakaian sendiri, 13 persen pada pembelian makanan, 7 persen pada gadget elektronik, 4 persen pada produk kosmetik dan otomotif roda dua, dan pada banyak kategori lainnya.