Terjerat Utang China, Negara Ini Terancam Kehilangan Satu-satunya Bandara Internasional

Reporter : Alfi Salima Puteri
Selasa, 30 November 2021 07:36
Terjerat Utang China, Negara Ini Terancam Kehilangan Satu-satunya Bandara Internasional
Berapa jumlah utangnya?

Dream - China dikabarkan akan mengambil alih Bandara Internasional Entebbe Uganda di Afrika Timur karena pemerintah Uganda gagal membayar utang.

Dikutip dari Wionews, Senin 29 November 2021, pemerintah Uganda telah gagal mengembalikan pinjaman dengan China yang memiliki persyaratan pembayaran untuk melampirkan satu-satunya bandara internasional di negara tersebut.

Pinjaman itu diberikan pada tahun 2015, ketika pemerintah Uganda, yang pada saat itu diwakili oleh kementerian keuangan dan Otoritas Penerbangan Sipil, menandatangani perjanjian dengan Bank Ekspor-Impor (Exim Bank) China.

China meminjamkan dana kepada Uganda sebesar US$207 juta atau sekitar Rp3 triliun dengan bunga 2 persen pada saat pencairan.

1 dari 5 halaman

Pinjaman ditolak China

Pinjaman tersebut ditujukan untuk pengembangan Bandara Internasional Entebbe dengan jangka waktu 20 tahun termasuk masa tenggang tujuh tahun.

Presiden Uganda, Yoweri Museveni mengutus delegasi ke Beijing dengan harapan dapat merundingkan kembali persyaratan yang merugikan itu. Tapi kunjungan itu tidak membuahkan hasil, karena otoritas China menolak untuk menyetujui perubahan apa pun.

Beberapa ketentuan dalam Perjanjian Pembiayaan, menurut Otoritas Penerbangan Sipil Uganda (UCAA), mewajibkan Bandara Internasional Entebbe dan aset Uganda lainnya untuk dilampirkan dan diambil alih oleh pemberi pinjaman China setelah arbitrase di Beijing.

Permintaan Uganda untuk merundingkan kembali persyaratan pinjaman ditolak oleh China, menempatkan pemerintahan Presiden Uganda, Yoweri Museveni dalam ketidakpastian.

Sumber: Wionews.com

2 dari 5 halaman

Geser Amerika Serikat, China Jadi Negara Terkaya di Dunia

Dream - Kekayaan China meningkat tiga kali lipat selama dua dekade terakhir. Hal ini, menurut laporan baru oleh McKinsey & Co, membuat China kini memimpin dan menyalip Amerika Serikat (AS) untuk posisi negara terkaya di dunia.

Kekayaan China meroket dari sebelumnya USD7 triliun pada tahun 2000, kini menjadi US$20 triliun, setelah China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia yang mempercepat kenaikan ekonominya.

Panik Lah! Lewat Jembatan Kaca, Eh Kacanya Copot

China menyumbang sekitar sepertiga dari peningkatan kekayaan bersih global selama periode itu.

Di kedua negara, lebih dari dua pertiga kekayaan yang terkumpul berada di kantong 10% rumah tangga terkaya, kata laporan itu, menambahkan bahwa bagian ini telah meningkat.

Secara total, kekayaan global mencapai US$514 triliun pada tahun 2020, naik dari US$156 triliun pada tahun 2000. Seperti yang dihitung oleh McKinsey, 68% dari kekayaan ini disimpan di real estat.

3 dari 5 halaman

Didorong harga properti

Ilustrasi© shutterstock

Menurut McKinsey, kenaikan tajam dalam kekayaan ini selama dua dekade terakhir telah melampaui peningkatan produk domestik bruto secara global. Peningkatan kekayaan global telah didorong harga properti yang menggelembung.

Seolah Tak Takut Corona, Wuhan Sudah Jadi Lautan Manusia Lagi

McKinsey memperingatkan bahwa lonjakan nilai real estat mungkin tidak berkelanjutan.

Harga tinggi mungkin membuatnya tidak terjangkau bagi banyak orang untuk membeli properti, kata McKinsey.

Tentunya hal tersebut dapat meningkatkan risiko krisis keuangan, seperti yang melanda AS pada tahun 2008 karena tingginya harga perumahan.

Kali ini, hal itu dapat mempengaruhi China juga karena utang yang dimiliki oleh pengembang propertinya. Runtuhnya harga aset bisa membuat sepertiga dari kekayaan global hilang, kata perusahaan konsultan itu.

Sumber: NDTV

4 dari 5 halaman

Indeks Pemulihan Covid-19: China Melorot, Indonesia Melesat

Dream - China sempat menjadi negara yang mampu pulih dari Covid-19 dengan cepat. Tetapi, prestasi itu belakangan terkoreksi akibat kasus Covid-19 yang kembali tinggi.

Dalam Indeks Pemulihan Covid-19 Nikkei terkini, China menempati urutan 9. Padahal, Negeri Tirai Bambu ini sempat bertengger di peringkat 1.

Aturan Masuk Indonesia Diubah Cegah Varian Omicron, Wajib Karantina 7 Hari

Ini disebabkan pendekatan tanpa toleransi yang dilakukan China dalam menekan pandemi. Akibatnya, kondisi new normal tidak bisa terwujud dalam waktu cepat.

Indeks tersebut menilai upaya negara terkait manajemen infeksi, peluncuran vaksin, dan mobilitas sosial. Semakin tinggi peringkatnya, maka semakin mendekati pemulihan dengan indikator infeksi yang rendah, tingkat vaksinasi yang lebih tinggi, dan jaga jarak yang diperlonggar.

China Selalu Ranking 1, Tapi Kini Jatuh

China telah mengambil posisi teratas sejak indeks tersebut pertama kali diterbitkan pada Juli berkat jumlah kasus yang rendah dan tingkat vaksinasi yang tinggi. Tetapi skor mobilitas masih rendah, menempatkan negara tersebut di peringkat 105 dari 121 negara pada September 2021.

Berdasarkan data resmi, China telah memberikan lebih dari 2,2 miliar dosis vaksin Covid-19 dan telah memvaksinasi lebih dari 70 persen populasinya. Namun demikian, negara ini mempertahankan kontrol perbatasan yang ketat dan pembatasan mobilitas.

Selama Libur Nataru, Polri Wajibkan Masyarakat Bepergian Punya SKM

China segera mengunci kota dan daerah pedesaan setiap kali ada kasus terkonfirmasi, membatasi jumlah penerbangan dari luar negeri dan memberlakukan periode karantina yang panjang hingga tiga atau empat minggu pada pelancong yang masuk.

Penerbangan internasional ke China turun lebih dari 90 persen pada September dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi, menurut Cirium, sebuah perusahaan data dan analitik penerbangan.

5 dari 5 halaman

Bagaimana dengan Indonesia

Pemerintah China diperkirakan tidak akan melakukan pelonggaran untuk satu tahun lagi. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada Agustus, Economist Intelligence Unit memperkirakan kontrol mobilitas yang ketat akan tetap diberlakukan hingga kuartal ketiga 2022.

Beberapa negara Asia Tenggara naik peringkat dengan kasus menurun dan vaksinasi berkembang pesat. Indonesia naik ke peringkat 54 dari 92, sedangkan Malaysia naik ke 102 dari 115.

Update Covid-19 28 November 2021, Angka Kematian Baru Hanya 1 Kasus

Tetapi, dua tempat terakhir masih ditempati oleh negara-negara anggota ASEAN. Filipina dan Laos. Sedangkan Vietnam berada di urutan keempat dari bawah, dikutip dari Nikkei.

Beri Komentar