Ilustrasi
Dream - BNI Syariah berencana menerbitkan obligasi syariah (sukuk) atau melakukan penawaran umum perdana (Initial Public Offering -IPO) sebagian saham perusahaan. Hal ini dilakukan anak perusahaan BNI untuk menambah modal tanpa bantuan perusahaan induknya.
" Kita sepakat tidak ada penambahan modal lagi dari pusat. Dengan jumlah modal saat ini, kita bisa bertahan hingga 2 tahun mendatang. Untuk itu, kita pikirkan apakah akan melakukan strategic investor dengan IPO atau corporate action melalui penerbitan sukuk," ungkap Direktur Utama BNI Syariah Dinno Indiano di Jakarta, kemarin.
Menurut Dinno, saat ini pihaknya belum memastikan tindakan apa yang akan diambil untuk penambahan modal tersebut. Pasalnya, kedua aksi ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
" Kalau kita menerbitkan sukuk saat ini dengan jangka waktu 5 tahun, nanti bertepatan dengan Pemilu juga, dan kita harus prediksi pasar saat itu. Sementara kalau IPO kan tinggal lepas landas saja, tetapi saham yang dikeluarkan paling hanya 20%. Jadi ini kita pikirkan baik-baik mana yang lebih menguntungkan," ujarnya.
Sementara mengenai pembelian saham oleh investor asing, Dinno hanya sedikit berkomentar. Dia mengatakan peluang pembelian saham itu bisa saja terjadi. Hanya saja, pihaknya menginginkan investor yang tidak hanya bisa memberikan uang, melainkan juga mampu memberikan nilai tambah bagi perusahaannya dan perbankan syariah nasional.
" Saat ini memang sudah banyak pihak yang nanya, seperti investor dari Malaysia dan Timur Tengah, tetapi kita ingin investor yang bukan bawa uang saja, tapi dia mengerti kebutuhan kita apa, kita butuh nilai tambah," pungkasnya. (Ism)