Harga Tak Wajar Saat Corona, Tokopedia Blokir Ribuan Pedagang

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Selasa, 24 Maret 2020 07:32
Harga Tak Wajar Saat Corona, Tokopedia Blokir Ribuan Pedagang
Di tengah wabah corona, Tokopedia memblokir permanen ribuan toko online yang menjual produk kesehatan dengan harga selangit.

Dream – Pandemi corona menjadi celah bisnis bagi oknum pedagang nakal. Mereka menjual barang-barang kesehatan seperti masker dan hand sanitizer dengan harga yang gila-gilaan.

Melihat hal ini, Tokopedia langsung bergerak cepat. E-commerce ini memblokir permanen ribuan toko online yang menjual produk kesehatan dengan harga selangit.

“ Menanggapi harga/judul/deskripsi tidak wajar atas produk kesehatan maupun kebutuhan pokok lain sebagai dampak dari COVID-19, Tokopedia telah menutup permanen ribuan toko online dan melarang tayang puluhan ribu produk yang terbukti melanggar,” kata Vice President of Corporate Communcations Tokopedia, Nuraini Razak, di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Senin 23 Maret 2020.

Tokopedia juga memangkas biaya layanan 100 persen untuk penjual di kategori produk kesehatan dan kebutuhan pokok lain.

Selain lewat edukasi, langkah ini dinilai dapat mendorong penjual selalu memastikan ketersediaan produk, juga menjaga harga tetap stabil.

“ Mengingat belanja online dapat menjadi alternatif mengurangi risiko penyebaran virus di tempat ramai sekaligus mendorong bisnis lokal terus beroperasi secara online,” kata dia.

1 dari 7 halaman

Berlabel Halal, Harga Hand Sanitizer Ini Malah 6 Kali Lipat

Dream – Selama pandemi corona, orang-orang bekerja sama untuk saling membantu. Mereka bahu-membahu untuk `berperang` melawan virus Covid-19.

Sayangnya, masih ada yang mengail di air keruh di tengah pandemi ini.

Dikutip dari World of Buzz, Minggu 22 Maret 2020, ada saja oknum yang menjual alat kesehatan seperti tisu toilet dan masker. Sekalinya ada, harganya bisa mencapai puluhan kali lipat.

Nah, ini juga terjadi di Malaysia. Ada yang menjual hand sanitizer dengan harga melejit. Hand sanitizer ini dilabeli dengan “ halal”. Produk ini dijual secara online.

 

© Dream

 

Alat pembersih tangan ini diklaim mengandung etanol yang menggantikan alkohol. Harga per botolnya dibanderol senilai 35 ringgit (Rp126.448). Tingginya harga ini dicuit oleh seorang warganet Twitter berakun @SiriuslyCold.

“ Di 7-Eleven, harga sanitizer normal 5,9 ringgit (Rp21.315). Tapi, kita harus mengambil keuntungan dari sekelompok agama,” cuit dia.

Sekadar informasi, etanol ini merupakan bentuk lain alkohol. Ada anggapan penjual berusaha menipu orang dengan membubuhkan label halal sehingga produknya laku.

Bahkan, Menteri Departemen Agama Malaysia, Zulkifli Mohamad Al-Bakri, menyebut hand sanitizer dianggap halal.

Dikatakan bahwa produk pembersih tangan ini mengandung etil alkohol (etanol), isopropil alkohol (isopropanol) atau benzalkonium klorida sebagai bahan utamanya. Ditambah lagi, alkohol dikenal dapat membunuh sebagian besar kuman.

“ Karena munculnya penyebaran virus COVID-19 di negara kita, dapat disimpulkan bahwa sanitiser tangan bukan najis dan diizinkan untuk digunakan dalam doa dan tidak dianggap seolah-olah kita melahirkan najis, ” tulis Kementerian Agama Malaysia.

2 dari 7 halaman

Virus Corona Merebak, Hand Sanitizer Dijual Rp9 Ribu/Tetes

Dream - Di tengah pandemi virus corona baru, Covid-19, semua orang di seluruh dunia berusaha untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Mereka juga berupaya agar tempat tinggalnya bersih dan higienis. 

Hand sanitizer menjadi senjata untuk menjaga kebersihan tangan. Sehingga tak heran kini harga produk kesehatan itu melambung. Dan, peningkatan harga itu dimanfaatkan seorang remaja di Inggris. 

 

© Dream



Dikutip dari World of Buzz, Minggu 15 Maret 2020, seorang remaja dari Leeds, Inggris, terpaksa dipulangkan dari sekolah. Alasannya, remaja berusia 13 tahun itu menjual hand sanitizer kepada teman-temannya. Bukan perbotol, apalagi perboks. Melainkan pertetes.

Satu tetes dihargai sekitar Rp9.000. Pria muda itu telah menjual 18 tetes dengan total pendapatan Rp166.000.

3 dari 7 halaman

Beli Kebab dan Kentang

Remaja ini mendengarkankabar radio yang menyarankan masyarakat sering mencuci tangan dan membersihkannya. Saat menunggu bus, dia pergi ke pusat perbelanjaan dan membeli hand sanitizer seharga 1,6 poundsterling atau sekitar Rp29.000. 

Remaja itu memamerkannya kepada teman-temannya. Kawan-kawannya memberikan ide bahwa hand sanitizer itu bisa dijual. Dengan keuntungan dari bisnisnya, remaja itu bisa membeli kebab dan keripik kentang. 

Sang ibu menyebut tak bisa mendisiplinkan anaknya. Dia tidak bisa menghukum sang anak karena bisnis hand sanitizer.

4 dari 7 halaman

Tak Perlu Bikin Masker dan Hand Sanitizer Sendiri, Cukup Cuci Tangan

Dream - Banyak orang memborong masker dan hand sanitizer, setelah pemerintah mengumumkan ditemukannya kasus corona positif di Indonesia. Harganya menjulang dan barangnya pun langka di pasaran.

Hal ini membuat beberapa orang membuat sendiri masker, baik dari tisu basah maupun kain. Cara ini mungkin yang paling bisa dilakukan tapi sebenarnya malah tidak efektif sebagai perlindungan.

 

© Dream

 

" Saya tidak yakin bahwa membuat masker sendiri di rumah adalah hal yang bijaksana untuk dilakukan. Secara paradoks tidak melindungi dan justru meningkatkan risiko infeksi jika orang menyentuh wajah mereka dan memiliki perlindungan yang salah," ujar Amesh A. Adalja, M.D., senior di Johns Hopkins Center for Health Security.

 

5 dari 7 halaman

Masker Tisu Tak Efektif

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat bahkan tidak merekomendasikan penggunaan masker di luar kebutuhan (dalam kasus ini merupakan petugas kesehatan). Hal ini karena COVID-19 merupakan virus yang menyerang pernapasan yang menular dari orang ke orang dengan jarak 6 kaki atau sekitar 2-3 meter.

Terlebih, masker berbahan tisu atau kain bukan jenis yang terbukti efektif. Adapun jenis masker yang efektif mengurangi paparan partikel droplet yaitu disebut dengan masker/respirator N-95.

Tanpa masker yang benar-benar pas, tertutup rapat, bahkan dengan N-95, terlebih buatan sendiri justru meningkatkan risiko infeksi. Intinya, jangan pernah membuat sendiri masker.

 

 

6 dari 7 halaman

Bagaimana dengan cairan antiseptik buatan?

Banyak juga video viral yang memberi tahu cara membuat hand santizer atau cairan antiseptik buatan.CDC menyarankan menggunakan hand sanitizer yang mengandung minimal 60% alkohol (etanol/etil-alkohol) jika tidak ada sabun.

Resep populer yang menyebar online termasuk kombinasi alkohol, minyak esensial, dan gel lidah buaya. " Sebaiknya Anda tidak berharap metode ini efektif dan aman," ujar Birnur Aral, PhD, direktur Health, Beauty and Environmental Sciences di Good Housekeeping Institute.

Misalnya, resep populer yang viral menyarankan menggunakan 2/3 cangkir 99% alkohol (isopropil-alkohol) atau etanol (etil-alkohol atau alkohol) sebagai bahan aktif antimikroba yang menghasilkan 66% bahan aktif.

" Bedanya produk yang lulus aturan FDA memiliki keefektifan dan keamanan yang teruji," ujar Aral.

 

7 dari 7 halaman

Cuci Tangan

Aturannya menentukan tingkat minimum isopropyl-alkohol yaitu 70% di hasil akhirnya atau minimum 60% etil-alkohol. Jadi, jika menggunakan isopropil-alkohol sebagaimana dianjurkan dalam resep, yaitu 2/3 cangkir, hadil akhirnya harus mencapai target minimum, yaitu 70%, catat Aral. Begitupun jika etanol yang ingin digunakan maka harus mencapai tingkat minimumnya sebagaimana disarankan oleh FDA, yaitu 60%.

Beberapa racikan menambahkan minyak tertentu, namun jumlahnya tidak cukup untuk membunuh virus. Untuk orang awam penakaran yang tepat agar bahan bekerja efektif sangat sulit dilakukan.

Justru ada cara yang jauh lebih mudah dari hal itu, yaitu cuci tangan dengan sabun. Daripada membuat masker atau hand sanitizer sendiri, lebih baik cuci tangan sesering mungkin.

Laporan Fitri Syarifah/ Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar