Waspada, `Shadow Bank` Masih Hantui Keuangan Dunia

Reporter : Syahid Latif
Jumat, 3 Oktober 2014 11:31
Waspada, `Shadow Bank` Masih Hantui Keuangan Dunia
Bank ini beroperasi menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya kepada debitur, Sayang, pengawasannya sangat minim.

Dream - Kehadiran bank bayangan (shadow banking) semakin lama makin mengkhawatirkan pelaku keuangan dunia. Bahkan lembaga sekelas Dana Moneter Keuangan (IMF) memperingatkan adanya ancaman besar bagi keuangan global, khususnya di Amerika Serikat, akibat beroperasinya shadow banking tersebut.

Dengan aset mencapai US$ 60 triliun, shadow banking dapat didefinisikan sebagai lembaga keuangan yang menjalankan fungsinya layaknya perbankan namun dengan pengawasan minimal. Shadow banking ini bisa ditemukan di lembaga seperti perusahaan sekuritas, hedge fund, reksa dana pasar uang dan lembaga pembiayaan di negara berkembang. Lembaga ini menghimpun dana dari investor dan meminjamkannya pada peminjam.

Kehadiran lembaga keuangan bayangan ini telah berkembang pesat di lingkungan suku bunga yang sangat rendah dalam enam tahun terakhir. Pemicunya, investor berharap mendapat keuntungan lebih dari investasinya sementara kalangan perbankan makin memperketat peraturan pasca krisis keuangan dunia.

Dalam laporan terbaru IMF disebutkan shadow banking memiliki risiko yang tinggi karena sangat tergantung pada pendanaan jangka pendek. Jika dilanda ketakutan, investor akan menarik dananya dalam keadaan panik yang akhirnya berdampak pada sistem keuangan yang lebih luas dan ekonomi global.

Untuk diketahui saja, nilai aset shadow banking di AS telah melampaui aset perbankan tradisional. Sementar di Eropa, aset shadow banking menguasai 60 persen dari seluruh aset perbankan.

Di negara berkembang jumlah shadow banking juga tak kalah besar. Hampir 60 persen bank bayangan ini menguasai aset keuangan. Jumlah terbesar terdapat di Cina karena bank-bank menghadapi pengaturan tingkat suku bunga.

" Shadow banking di Cina sangat menyolok dan perlu ada upaya pengawasan secara ketat," kata laporan IMF tersebut seperti dikutip dari Arabnews, Jumat, 3 Oktober 2014.

" Shadow banking muncul di saat tingkat suku bunga riil dan imbal hasil memiliki spread yang rendah, serta saat investor mencari keuntungan yang lebih tinggi."

Laporan IMF menyebutkan shadow banking sebenarnya memiliki tujuan yang baik karena memperluas akses kredit, terutama di pasar negara-negara berkembang. Namun otoritas pengawas keuangan harus menyiapkan informasi yang lebih banyak dan membuat aturan untuk meredam tingkat risiko sistematik. (Ism)

Beri Komentar