Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Aksi Demonstrasi Occupy Wall Street (www.nationalpost.tumblr.com)
Dream - Kehadiran bank bayangan (shadow banking) semakin lama makin mengkhawatirkan pelaku keuangan dunia. Bahkan lembaga sekelas Dana Moneter Keuangan (IMF) memperingatkan adanya ancaman besar bagi keuangan global, khususnya di Amerika Serikat, akibat beroperasinya shadow banking tersebut.
Dengan aset mencapai US$ 60 triliun, shadow banking dapat didefinisikan sebagai lembaga keuangan yang menjalankan fungsinya layaknya perbankan namun dengan pengawasan minimal. Shadow banking ini bisa ditemukan di lembaga seperti perusahaan sekuritas, hedge fund, reksa dana pasar uang dan lembaga pembiayaan di negara berkembang. Lembaga ini menghimpun dana dari investor dan meminjamkannya pada peminjam.
Kehadiran lembaga keuangan bayangan ini telah berkembang pesat di lingkungan suku bunga yang sangat rendah dalam enam tahun terakhir. Pemicunya, investor berharap mendapat keuntungan lebih dari investasinya sementara kalangan perbankan makin memperketat peraturan pasca krisis keuangan dunia.
Dalam laporan terbaru IMF disebutkan shadow banking memiliki risiko yang tinggi karena sangat tergantung pada pendanaan jangka pendek. Jika dilanda ketakutan, investor akan menarik dananya dalam keadaan panik yang akhirnya berdampak pada sistem keuangan yang lebih luas dan ekonomi global.
Untuk diketahui saja, nilai aset shadow banking di AS telah melampaui aset perbankan tradisional. Sementar di Eropa, aset shadow banking menguasai 60 persen dari seluruh aset perbankan.
Di negara berkembang jumlah shadow banking juga tak kalah besar. Hampir 60 persen bank bayangan ini menguasai aset keuangan. Jumlah terbesar terdapat di Cina karena bank-bank menghadapi pengaturan tingkat suku bunga.
" Shadow banking di Cina sangat menyolok dan perlu ada upaya pengawasan secara ketat," kata laporan IMF tersebut seperti dikutip dari Arabnews, Jumat, 3 Oktober 2014.
" Shadow banking muncul di saat tingkat suku bunga riil dan imbal hasil memiliki spread yang rendah, serta saat investor mencari keuntungan yang lebih tinggi."
Laporan IMF menyebutkan shadow banking sebenarnya memiliki tujuan yang baik karena memperluas akses kredit, terutama di pasar negara-negara berkembang. Namun otoritas pengawas keuangan harus menyiapkan informasi yang lebih banyak dan membuat aturan untuk meredam tingkat risiko sistematik. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya