Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Nilai tukar rupiah yang terus merosot ke level Rp 14 ribu memberikan sinyal kembalinya Indonesia ke masa Krisis Moneter (Krismon) tahun 1998 dan krisis ekonomi 2008. Namun, ternyata kondisi ini belum menunjukkan kondisi krisis ekonomi 1998 dan 2008.
Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat, 28 Agustus 2015, beberapa indikator ekonomi saat ini memang ada yang sama dengan kondisi tahun 1998 dan 2008. Namun, masih banyak indikator ekonomi yang jauh dari kondisi krisis saat itu.
Pada tahun 1998, depresiasi rupiah mencapai 197 persen menyebabkan nilai tukar rupiah berada posisi terendah yaitu Rp 16.650 per dolar Amerika Serikat. Sementara pada tahun 2008, depresiasi rupiah sebesar 34,86 persen ke level Rp 12.650 per dolar AS. Sedangkan saat ini dengan nilai tukar di level Rp 14.123, rupiah baru terdepresiasi 14,03 persen.
Lalu, apakah dengan indikator nilai tukar ini, Indonesia berpotensi kesulitan membayar utang luar negeri?
Data BEI kembali melaporkan rasio utang negeri terhadap cadangan devisa RI masih sangat kecil, yaitu 2,8 kali dari cadangan devisa yang sebesar US$ 107,6 miliar. Sementara total utang luar negeri Indonesia tercatat US$ 304,3 miliar.
Sedangkan pada saat Krismon 1998, utang luar negeri yang totalnya US$ 150,8 miliar merupakan 8,6 kali dari cadangan devisa sebesar US$ 17,4 miliar. Begitupun pada tahun 2008, utang luar negeri sebesar US$ 155,08 miliar merupakan 3,1 kali cadangan devisa saat itu yang sebesar US$ 50,2 miliar.
Rasio utang pemerintah terhadap PDB pun saat ini masih pada level aman yaitu hanya 24,7 persen. Hal ini berbeda jika dibandingkan pada tahun 1998 yang rasionya mencapai 100 persen, dan pada tahun 2008 rasionya 27,4 persen.
Selain itu, ada beberapa indikator ekonomi saat ini yang masih pada level aman. Indonesia masih mengalami pertumbuhan sebesar 4,67 persen yang bisa dikatakan melambat jika dibandingkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini. Pada tahun 1998, pertumbuhan ekonomi RI justru minus 13,10 persen, dan pada tahun 2008, pertumbuhannya hanya 4,12 persen.
Inflasi saat ini masih 7,26 persen, inflasi tahun 1998 mencapai 82,4 persen, sedangkan pada tahun 2008 inflasinya sebesar 12,14 persen. IHSG saat ini 4.237, tahun 1998 IHSG 256, dan tahun 2008 IHSG 1.111.
Di sektor perbankan, kondisi kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) Gross tahun ini hanya sebesar 2,6 persen. Jauh lebih rendah dari kondisi 1998 sebesar 30 persen, dan tahun 2008 sebesar 3,8 persen. Suku bunga acuan BI tahun ini juga terbilang rendah, hanya 7,5 persen.
Bandingkan dengan tahun 1998, suku bunga acuan BI Rate kala itu mencapai 60 persen, dan tahun 2008 suku bunganya 9,5 persen. Jadi apakah Indonesia sudah mulai krisis?
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya