Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Tahun 2017 merupakan tahun penuh pengharapan bagi para pelaku sektor properti. Harapan ini muncul seiring tren rebound yang terjadi jelang akhir tahun 2016.
Namun, sektor ini pun masih menghadapi tantangan-tantangan pada tahun ini supaya pertumbuhannya tidak terlalu melambat.
Country General Manager Rumah123.com, Ignatius Untung, dalam konferensi pers " Consumer Choice Awards 2017" di Jakarta, Kamis 26 Januari 2017 mengatakan setidaknya ada dua faktor yang menentukan keberlangsungan bisnis properti di tahun ini.
Faktor pertama adalah situasi politik. Bagi pelaku usaha, politik sangat mempengaruhi iklim bisnis dan menentukan langkah bisnis mereka.
Sekadar informasi, tahun ini merupakan tahun penyelenggaraan Pilkada secara serentak.
" Mudah-mudahan tidak bertambah panas. Kalau suasana politik tambah panas, (pelaku bisnis) dan pengembang juga akan berpikir," kata dia.
Sementara tandangan kedua adalah pemerintah harus memiliki terobosan untuk mencegah harga properti tidak melambung terlalu cepat. Saat ini memang diakui telah ada satu kebijakan yang bisa mendorong kenaikan harga properti ketika harganya naiknya terlalu pelan.
" (Program) BPJS (Ketenagakerjaan) bisa dipakai DP rumah itu akan membuat naik cepat. Ya, harus dipikirkan bagaimana harga rumah tidak naik terlalu cepat," kata dia.
Sekadar informasi, sebelumnya ada program fasilitas pembayaran uang muka dari BPJS Ketenagakerjaan, namun sudah ditutup sejak tahun 2015 karena kurang sosialisasi. Kini, instansi ini menggandeng PT Bank Tabungan Negara Tbk (Persero) untuk memberikan pinjaman lunak bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan untuk uang muka pembelian rumah.
Kemudian, kata Untung, ketika harga properti melambung, itu bukan berarti marjin yang diterima pengembang juga ikut terkerek. Yang ada, marjin mereka sedikit, bahkan bisa turun.
Hal ini disebabkan oleh semakin mahalnya harga tanah dan banyaknya biaya-biaya yang dikeluarkan developer. Di sinilah, pemerintah seharusnya masuk supaya biaya yang dikeluarkan tidak terlalu banyak dan harga properti tidak terlalu tinggi.
" Pemerintah harus memberikan insentif bagi pengembang," kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya