Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Bursa saham Indonesia benar-benar telah mengakhiri tren naik jangka pendeknya. Masuk pada fase konsolidasi, seluruh indeks saham acuan terlempar dari rekor barunya.
Hanya indeks sektor pertambangan yang mampu berhasil bertahan di zona hijau. Pasar modal Indonesia sendiri dihantam sejumlah sentimen negatif dari global dan regional.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 9 Maret 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terhempas 2,185 poin (1,24%) ke level 173,556.
ISSI sudah sangat jauh dari rekor tertingginya yang dicapai akhir pekan lalu di level 175,741. Menghabiskan waktu perdagangan di zona merah, ISSI mencetak level terendah di 172,982 dan hanya sanggup menguat ke level tertinggi 174,780.
Pelemahan harga saham yang melanda 141 emiten syariah telah menyeret ISSI jatuh ke teritori negatif. Menguatnya harga saham dari 39 emiten tak cukup untuk menahan aksi jual pelaku pasar.
Di awal pekan ini pelaku pasar mentransaksikan 27,95 miliar saham bernilai Rp 4,01 triliun.
Kinerja tak kalah berbeda dialami indeks saham bluechips syariah. Jakarta Islamic Index (JII) awal pekan ini harus rela terpangkas 10,198 poin (1,39%) ke level 724,649.
Papan perdagangan JII diwarnai aksi memerah dari 24 saham bluchips syariah. Beruntung masih ada 5 emiten yang melaju positif dan 1 lainnya stagnan.
Transaksi perdagangan saham tercatat mencapai Rp 2,79 triliun dengan 7,92 miliar saham yang beralih tangan.
Pelemahan lebih dalam dialami Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terhempas 70,153 poin (1,27%) ke level 5.444,634. IHSG akhirnya harus merelakan rekornya di atas level 5.500 kembali menghilang.
Lantai bursa saham sore ini diguyur dana investor hingga Rp 6,09 triliun dengan 51,96 mliar saham yang diperdagangkan.
Investor asing yang mulai khawatir dengan rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed juga mulai berbalik arah. Asing mencetak nett sel hingga Rp 272,26 miliar.
Dari kawasan regional, kecuali Shanghai Composite yang menguat 1,89 persen, seluruh indeks saham utama Asia bergerak melemah. Indeks Nikkei Jepang dan Hang Seng China terkoreksi 0,95 persen dan 0,17 persen.
Di pasar keuangan, rupiah masih belum lepas dari tekanan pasar. Sempat menguat ke level 12.975, kurs rupiah menutup perdagangan dengan melemah 51 poin (0,39%) menjadi 13.026 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya