Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Memulai awal pekan bursa saham Indonesia langsung dilanda tekanan jual. Rekor akhir pekan lalu terpangkas aksi pelaku pasar yang melepas portofolionya di tengah tekanan regional.
Investor asing yang pelan-pelan mengurangi aksi belanjanya juga mengurangi perputaran uang di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada pra pembukaan perdagangan BEI, Jakarta, Senin, 9 Maret 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) langsung terkoreksi 1,02 poin ke level 174,721.
Pelemahan ISSI masih terus berlanjut hingga 15 menit waktu perdagangan. ISSI tercatat masih terkulai 1,583 poin (0,90%) ke level 174,158.
Sebanyak 105 emiten syariah mengawali perdagangan di zona merah. Sementara hanya 21 emiten yang masih bisa melanjutkan penguatan dan 33 lainnya melaju stagnan.
Nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp 490,48 miliar dengan 3,16 miliar saham yang beralih tangan.
Tekanan juga dialami indeks saham bluechips syariah yang akhir pekan memecahkan rekor tertingginya. Jakarta Islamic Index (JII) terjun bebas 5,794 poin ke level 729,053.
JII masih terhempas di zona merah dengan melemah 7,450 poin (1,01%) ke level 727,397 hingga 15 menit waktu perdagangan.
Papan perdagangan JII hanya dihuni 2 emiten yang bertengger di zona positif. Selebihnya, sebanyak 27 emiten terserang aksi jual sementara 1 lainnya masih bisa melaju stagnan.
Bursa saham Indonesia awal pekan ini memang tengah dilanda aksi jual pelaku pasar. Terbukti, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 30,92 poin (0,56%) ke level 5.483,85 pada pra pembukaan perdagangan saham.
Tekanan IHSG berlanjut di sesi pembukaan usai terkoreksi 43,34 poin (0,79%) ke level 5.471,44.
Analis PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo memperkirakan sentimen negatif pasar berasal dari spekulasi The Fed yang akan mempercepat kenaikan suku bunga pada Juli mendatang.
Sentimen ini muncul setelah munculnya data positif tenaga kerja di Negeri Paman Sam. " Bursa regional pagi ini mensikapi koreksi Dow Jones tersebut sebagai sentimen negatif," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya