Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Covid-19 Membuat Traveler Dari Menengah Atas Menunda Rencana Wisata Mereka (Foto:Shutterstock)
Dream – Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Chatib Basri, mengatakan, belanja masyarakat berangsur pulih, terutama di kalangan bawah. Belanja masyarakat kelas menengah pun hampir normal.
Namun, untuk kelas atas, mereka masih mengerem belanjanya, khususunya untuk entertainment yang menjadi belanja utamanya.
“ Dengan adanya pandemi, aktivitas entertainment berhenti, leisure berhenti, juga traveling,” kata dia dalam Webinar Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia “ Harapan, Tantangan, dan Strategi Kebijakan Pemulihan Ekonomi Nasional”.
Chatib menambahkan, konsumsi kelas menengah atas—bagian terbesarnya adalah konsumsi rumah tangga—akan pulih kalau pandemi diselesaikan.
“ Karena itu, fokus pada penanganan kesehatan menjadi sesuatu yang sangat penting,” kata dia.
Selain itu, pandemi dan pembatasan aktivitas mengubah perilaku konsumen. Ini terlihat dari penjualan sepeda, tanaman hias, hingga ikan cupang, yang meningkat sampai 40 persen.
Menurut Chatib, orang mengubah aktivitas senggangnya ke aktivitas yang berhubungan dengan hobi. Pola bepergian dengan pesawat udara berganti ke roadtrip (perjalanan darat pribadi), jasa resor atau bungalow yang privat dan jauh dari kerumunan semakin menjadi pilihan, demikian pula restoran.
Transformasi bisnis pun terjadi. “ Sektor yang mampu mentransformasikan dirinya ke dalam digital, berpeluang untuk survive,” kata dia.
Keberadaan stimulus, meskipun penting, tidak dapat dikucurkan selamanya. Ada kerangka waktu pemberian stimulus itu. Pengurangan stimulus dapat dilakukan kalau konsumsi masyarakat dan investasi swasta pulih. Namun, pandemi COVID-19 bisa menahan konsumsi kelas menengah atas.
Tak hanya itu, investasi swasta tidak akan meningkat dan perekonomian akan kembali kepada APBN. “ Oleh karena itu, time frame kapan stimulus harus ditarik menjadi sangat penting,” kata Chatib.
Indonesia, lanjut Chatib, harus berupaya pulih lebih awal daripada negara-negara maju. “ Sebelum mereka sempat menormalisasi kebijakan moneter masing-masing yang mengakibatkan keluarnya arus modal, caranya dengan segera mengatasi pandemi,” kata dia.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya