Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dua Warga Venezuela Berpelukan Saat Menggelar Aksi Demonstrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Turki, Argentina, Venezuela, dan kini Afrika Selatan. Empat negara itu tengah menghadapi cobaan berat setelah perekonomiannya masuk jurang resesi.
Afrika Selatan menjadi negara terbaru yang dikabarkan mengalami resesi setelah pertumbuhannya ekonominya melambat 0,8 persen pada kuartal kedua 2018.
Secara teknis, sebuah negara dikatakan mengalami resesi jika ekonominya mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut.
Pemicu utama resesi ekonomi yang melanda AFsel adalah pertumbuhan melambat dari sektor pertanian, transportasi, dan perdagangan. Secara khusus, pertumbuhan sektor pertanian Afsel turun 29,2 persen, atau 0,8 persen dari PDB negara.
Statistics South Africa, BPS-nya Afsel mencatat pertumbuhan positif terjadi pada sektor industri pertambangan, keuangan, real estate dan jasa.
" Ekonomi tetap loyo, sebagian disebabkan ketidakpastian kebijakan," kata analis dari Peregrine Solutions, Bianca Botes.
Ekonomi George Glynos, kepala analis di ETM Analytics mengatakan resesi yang dialami Afsel adaah hasil dari pengelolaan administrasi yang buruk selama bertahun-tahun.
Nilai tukar Rand tercatat sudah turun 1,5 persen terhadap dollar AS pada perdagangan kemarin. Kurs dollar AS dijual 15,6 rand. Pelemahan ini membuat pasar saham negara tersebut ikut ambruk.
Sementara itu dari Amerika Latin, negara yang mengalami kebangkrutan Venezuela semakin susah keluar dari tekanan.

Laporan terbaru menyebutkan laju inflasi Venezuela hanya untuk Agustus saja menyentuh angka 200 persen. Sepanjang tahun ini, laju inflasi telah menyentuh 200 ribu persen.
Mantan pejabat bank sentral Venezuela, Jose Guerra dalam cuitannya mengatakan dua bulan yang lalu, laju inflasi di Venezuela untuk satu bulan untuk pertama kalinya melewati 100 persen.
Dengan inflasi ini, harga barang di Venezuela telah meroket sampai 35 ribu persen sejak awal tahun 2018, atau 200 ribu persen sejak 31 Agustus 2017.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi Venezuela bakal menyentuh satu juta persen pada akhir 2018.
Pasar negara emerging market saat ini juga tengah dibuat cemas dengan kondisi ekonomi Turki dan Argentina. Kedua negara itu telah menyebarkan ketakutan pada pasar dunia termasuk Indonesia.

Argentina bergerak cepat untuk memulihkan ekonomi negaranya. Negeri Tanggo ini telah memila IMF untuk memberikan dana pinjaman US$50 miliar, langkah yang membuat pasar terkejut dan peso tertekan.
Nilai tukar Peso tercatat jatuh ke posisi terendah sepanjang sejarah di kisaran 41 per dollar pekan lalu.
Laju inflasi Argentina juga semakin mengkhatirkan. Pada Juli lalu, inflasi Argentina meningkat tajm hingga 30 persen dalam setahun. Langkah antisipasi bank sentral Argentina dengan menaikkan tingkat suku bunga acuan tak ampuh mengendalikan pasar.
Dari Turki, pelemahan nilai tukar Lira telah menyebar menjadi wabah di kalangan negara-negara Emerging Market. Nilai tukar lira terhadap dollar AS menyentuh rekor terendahnya setelah Presiden Donald Trump menggandakan pengenaan tarif impor untuk komoditas baja dan aluminium.
Lira telah melemah hingga 40 persen sejak presiden Recep Tayyip Erdogan bersikukuh agar bank sentral tetap mempertahankan suku bunga rendah.
Sentimen yang melanda negara-negara berkembang ini ikut menyeret pasar saham Indonesia. Burs Efek Indonesia mencatat perdagnagan terburuknya dalam dua tahun terakhir kemarin. Sementara nilai tukar rupiah menyentuh level terendah dalam dua dekade terakhir.
Menurut Moody's, Indonesia memiliki 41 persen surat utng dalam satuan mata uang asing. Dengan kurs rupiah yang terus melemah, semakin sulit bagi pemerintah untuk membayar utang-utangnya.
(Sumber: CNBC, Theindependet.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya