Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Pasar modal syariah Indonesia tak mampu menahan aksi lepas saham pelaku pasar. Melonjaknya net sell pemodal asing menyeret Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) ditutup melemah.
Kondisi regional, khususnya bursa saham China, yang ditutup melemah juga menyurutkan aksi beli investor.
Pada penutupan perdagangan harian Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 24 Agustus 2016, indeks ISSi tergelincir 0,770 poin (0,43%) ke level 178,364.
Sementara indeks bluechips syariah, JII, ditutup turun 4,275 poin (0,57%) ke level 746,09.
Kedua indeks acuan saham syariah ini bergerak lemah sepanjang perdagangan. ISSI bahkan sempat menyentuh level terendahnya di pertengahan pekan ini di level 177,534.
Dengan 81,69 miliar saham syariah yang berpindahtangan, sebanyak 106 emiten terkena aksi jual investor. Sementara 81 lainnya masih menjadi buruan pemodal dan 57 emiten ISSI bertahan stagnan.
Koreksi indeks sektoral yang mengalami tekanan besar melanda emiten barang konsumsi yang turun 1,16 persen, properti 0,70 persen, dan manufaktur 0,57 persen.
Sementara indeks sektor industri aneka mencetak kenaikan tertinggi usai menguat 1,12 persen. Disusul indeks sektor keuangan 0,51 persen, dan pertanian yang naik 0,088 poin.
Dari dana berputar Rp 5,59 triliun, daftar emiten bluechips syariah pencetak kenaikan harga saham tertinggi dicetak emiten UNTR yang naik Rp 275, ASII Rp 100, INCO Rp 70 BSDE Rp 50, dan PGAS Rp 40 per saham.
Sementara di jajaran top losser, emiten unggulan syariah yang mengalami koreksi saham terdalam adalah LPPF yang turun Rp 625, AALI Rp 500, UNVR Rp 400, INTP dan SMGR yang turun Rp 375 per saham.
Di pasar keuangan, kurs rupiah juga tak membawa kabar baik. Sore ini rupiah tertekan 28 poin (0,21%) menjadi 13.250 per dolar AS.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya