Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Pengeluaran masyarakat muslim dunia untuk makanan halal terus meningkat dengan cepat tiap tahun. Namun pebisnis kuliner tampaknya masih berhati-hati.
Ahli industri makanan halal mengungkapkan aktivitas merger dan akuisisi di industri ini terbilang masih sangat minim.
" Kurangnya informasi keuntungan dari langkah akuisisi perusahaan makanan halal menjadi alasan utama mengapa aktivitas ini sangat minim di tingkat global dan regional," kata Managing Director Raqam Consultancy, Hassan Bayrakdar mengutip laman Zawya, Rabu, 24 Februari 2016.
Laporan terbaru Halal Food M&A Activity and Opportunities dari Thomson Reuters Oktober lalu menunjukan pengeluaran masyarakat dunia di sektor makanan dan minuman pada 2014 mencapai US$ 1,1 triliun.
Sementara Global Islamic Economy Report melaporkan pasar makanan halal dunia diperkirakan melonjak US$ 2,537 triliun hingga 2019. Namun dari perkiraan US$ 795 miliar pada 2014.
Menurut Bayrakdar, alasan lain terbatasnya aktivitas M&A di pasar makanan halal adalah minimnya pemahaman regulasi halal di masing-masing negara.
" Jika regulasi tak bisa dipahami, mereka cenderung menghindarinya...mereka khawatir akan ditolak. Contohnya regulasi di Malaysia berbeda dengan Uni Emirat Arab," katanya.
Laporan Halal Food M&A Activity and Opportunities menyebut setidaknya telah terjadi 400 kerjasama bisnis industri makanan di negara anggota OKI dengan rata-rata nilai US$ 2,1 miliar antara 2012 sampai 2015.
Sebagian besar kerjasama ini dilakukan produsen makanan khususnya di negara Asia Pasifik anggota OKI.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, transaksi M&A bisnis makanan halal di negara mayoritas muslim justru melambat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya