Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Tekanan jual kembali meningkat jelang penutupan perdagangan saham. Kondisi bursa regional yang melemas setelah koreksi harga minyak dunia menyeret indeks syariah jatuh ke teritori negatif.
Padahal harapan akan berlanjutnya penguatan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) sempat muncul di sesi pembukaan.
Terlebih lagi, investor asing hari ini kembali melantai dengan nett buy mencapai Rp 451 miliar di sesi penutupan.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 23 Februari 2016, indeks ISSI turun 1,839 poin (1,23%) ke level 147,192. Koreksi juga terjadi pada indeks JII yang turun 8,213 poin (1,30%) ke level 623,525.
Indeks ISSI dan JII sebetulnya memulai perdagangan dari zona positif. Meski ISSI hanya mampu melaju pelan ke level terendah di 149,591.
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencapai Rp 3,81 triliun dengan 31,49 miliar saham beprindahtangan.
Aksi jual saham menyeret 119 emiten syariah masuk kembali ke zona negatif. Hanya 46 emiten yang mampu melawan tren pelemahan sementara 59 lainnya bertahan stagnan.
Saham-saham infrastruktur menjadi satu-satu indeks sektoral yang bergerak menguat sebesar 0,37 persen. Selebihnya, indeks sektoral bergerak melemah dengan koreksi dalam terjadi pada industri aneka yang turun 2,72 persen dan industri dasar 2,00 persen.
Di jajaran saham keping biru syariah, emiten penghuni top gainer diisi oleh ITMG yang naik Rp 200, MIKA Rp 55, serta KLBF, PGAS, dan TLKM yang masing-masing menguat Rp 40 per saham.
Sementara saham UNVR yang awal pekan kemarin jadi buruan investor, kali ini dilanda tekanan jual. Menjadi top losser, UNVR terkoreksi Rp 925. Disusul AALI Rp 750, UNTR Rp 700, INTP Rp 500, dan SILO Rp 425 per saham.
Dari pasar keuangan, kurs rupiah juga ikut mengalami tekanan. Sore ini rupiah melemah 10 poin ke level 13.448 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya