Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Amazon Punya Cara Unik Untuk "mencegah" Karyawannya Mengundurkan Diri. (Foto: Shutterstock)
Dream – Amazon punya solusi untuk karyawan yang sudah tak mau bekerja lagi di perusahaannya. Raksasa e-commerce itu rela merogoh uang hingga ribuan dolar AS sebagai pesangon.
Tapi, perusahaan yang dirintis oleh Jeff Bezos ini punya satu syarat yang harus dipenuhi oleh karyawan yang bersangkutan. Mereka takkan pernah lagi melamar di perusahaan ini.
“ Kami ingin orang-orang yang bekerja di Amazon, ingin berada di sini. Dalam jangka panjang, tinggal di suatu tempat yang tidak diinginkan itu tidak sehat bagi karyawan kami dan perusahaan,” kata juru bicara Amazon, Melanie Etches, kepada CNBC, Selasa 22 Mei 2018.
Etches mengatakan perusahaan menawarkan pesangon sebesar US$2 ribu (Rp28,34 juta) untuk karyawan yang telah bekerja penuh selama setahun. Tawarannya meningkat hingga US$1.000 (Rp14,17 juta) per tahun masa bekerja dengan penghasilan maksimal US$5 ribu (Rp70,84 juta).
Sekadar informasi, program ini bernama Pay to Quit dan pertama kali dibuat oleh distributor sepatu online, Zappos, pada 2009.
Zappos hanya memperpanjang penawaran kepada karyawan terbarunya dalam beberapa minggu pertama kerja dan bonus berhenti sebesar US$1.000 (Rp14,17 juta).
Amazon mengatakan mereka tidak ingin karyawan menerima penawaran tersebut. Bahkan, di headline memo, tertulis perkataan bos Amazon, Jeff Bezos, yang meminta karyawan untuk tidak mengambil penawaran ini.
“ Tujuannya untuk mendorong orang-orang sejenak dan berpikir tentang apa yang benar-benar mereka inginkan,” kata dia.
Pakar karier, Michael Burchell, mengatakan sistem pay to quit tidak selalu mendorong karyawan untuk bekerja lebih keras, tetapi juga menangani masalah komitmen untuk tinggal.
“ Jika memilih untuk tidak mengambil uang dan tetap tinggal, itu berarti kamu berkomitmen untuk organisasi dan pekerjaan,” kata Burchell.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya