Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Dream - Pada abad 21 ini banyak sekali dijumpai ibu-ibu yang beralih menjadi pengusaha sukses, entah itu di bidang teknologi, publikasi, jasa, dan sebagainya.
Nama-nama seperti penulis JK Rowling, perancang busana khusus ibu-ibu Liz Lange, pemilik perusahaan mainan dan multimedia Julie Aigner Clark tentu sudah tidak asing bagi kita.
Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga pebisnis alias 'mompreneur' yang memiliki mimpi luar biasa untuk memulai sebuah usaha dan kemudian terjun ke dalam persaingan yang keras, tanpa meninggalkan kewajiban sebagai ratu rumah tangga.
Namun menjadi seorang mompreneur tentu ada suka-dukanya. Ada sisi baik (The Good), sisi buruk (The Bad), dan sisi jelek (The Ugly). Berikut berbagai sisi menjadi mompreneur yang dikutip dari Enterpreneur, Jumat, September 2015.
The Good
1. Kebebasan dan kemandirian yang luar biasa. Menciptakan usaha sendiri seperti menjadi guru les, penulis lepas, jualan online dan sebagainya yang bisa dikerjakan dari rumah adalah model bisnis terbaik bagi seorang ibu rumah tangga. Yang paling menyenangkan adalah kemandirian dan fleksibilitas serta kontrol waktu yang sungguh tak ternilai harganya.
2. Potensi pendapatan yang hampir tak terbatas. Keuntungan besar dari menjalankan bisnis sendiri adalah pendapatan yang hampir tak terbatas. Dengan sedikit sentuhan pada hobi atau ketrampilan yang kita miliki, kita akan membuat perubahan besar terkait pendapatan bulanan atau tahunan. Kita bisa mendapatkan apa yang diinginkan, tanpa perlu menunggu pemberian pasangan.
The Bad
1. Bisnis startup berjalan lambat, pendapatan bisa lebih lambat. Awalnya, saat memulai bisnis startup, kita selalu membayangkan semuanya berjalan mudah, murah, dan stabil. Tetapi asumsi seperti itu kadang justru menipu. Butuh waktu sekitar satu tahun atau lebih sebelum bisnis bisa berdiri sendiri dan menghasilkan.
Jika bisnis berjalan lambat sementara penghasilan hampir tidak ada, maka perlu untuk waspada. Apalagi bagi mompreneur yang sering menggunakan uang tabungan rumah tangga untuk membiayai atau mensubsidi bulan-bulan atau tahun-tahun awal bisnisnya. Ini bisa menjadi risiko yang sangat besar dan tidak boleh dianggap ringan.
2. Semuanya dikerjakan sendiri. Mungkin bagi sebagian orang, mengerjakan sendiri semua urusan bisnis akan lebih mudah dan menghemat biaya. Selain itu pendapatan juga tidak perlu dibagi dengan orang lain. Namun manusia memiliki batas sehingga memerlukan bantuan orang lain. Kita mungkin jago dalam bidang yang kita sukai, tetapi tidak ada orang yang pintar dalam segala hal.
The Ugly
1. Membuka usaha berarti aktivitas malah bertambah. Meluncurkan bisnis baru berarti lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk bekerja. Tergantung pada jenis usahanya, mompreneur sering terjebak dalam kerja penuh waktu. Padahal intinya memperoleh pendapatan tambahan di waktu luang.
Saat memulai usaha banyak hal yang harus dikerjakan. Mulai dari mengatur rencana bisnis, menyewa staf, menguji produk hingga menyempurnakan branding. Yang semuanya membutuhkan lebih banyak waktu ketimbang hari-bari biasanya.
2. Bisnis bisa menyebabkan perselisihan rumah tangga jika tidak ada dukungan. Mompreneur cerdas selalu mengembangkan bisnis seputar hobi mereka. Tapi apa yang terjadi jika di satu sisi mompreneur sangat suka dengan bisnis yang dia jalankan, sementara pasangan atau anggota keluarga lainnya tidak? Tentu saja usaha tersebut akan berjalan pincang. Bukannya memperoleh pendapatan tambahan, tetapi menimbulkan kerugian dalam hal finansial dan hubungan kekeluargaan.
Untuk itu pastikan selalu berbicara dengan pasangan dan anggota keluarga lainnya tentang usaha bisnis yang akan dijalankan. Sehingga mereka akan memberikan dukungan dan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan rutinitas seorang mompreneur.
Ironisnya, mompreneurship ternyata sangat persis dengan kondisi menjadi seorang ibu: menyenangkan, indah dan menakjubkan tetapi juga menantang, memakan waktu dan kadang-kadang menguras pikiran.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam