Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Ilustrasi
Dream - Kalangan industri perbankan konvensional tengah gundah gulana. Perlambatan ekonomi nasional hingga semester I-2015 memicu kekhawatiran akan meningkatnya kredit macet (non performing loan) nasabah.
Riset Infobank mencatat, rasional kecukupan modal (CAR) dan Rasio Modal Inti perbankan pada Mei 2015 hanya 20,51 persen dan 17,89 persen, turun dari posisi April 2015 yang mencapai 20,79 persen dan 18,19 persen.
Sedangkan pertumbuhan Kredit dan DPK Perbankan pada Mei 2015 hanya sebesar 10,40 persen, turun dari bulan sebelumnya 12,45 persen.
" Ada sejumlah faktor pemicu perlambatan kredit yakni pelemahan permintaan dalam negeri secara merata,investasi, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah dan melambatnya impor barang modal," ujar Eko B Supriyanto, Pemimpin Redaksi majalah Infobank.
Industri yang bergerak di bidang penjualan barang modal alat berat, kendaraan dan properti menjadi sektor yang paling terdampak dari perlambatan ini. Belum lagi harga komoditas yang mencapai posisi terendah sejak krisis 1998.
Melihat fenomena yang berlangsung, Eko menilai kalangan perbankan kini tidak lagi berkompetisi melakukan ekspansi kredit. Sedapat mungkin para pelaku perbankan memilih menahan kredit agar tak bermasalah.
Sejak 2013 hingga kini, Infobank mencatat nilai NPL perbankan terus meningkat. Dari 1,77 persen pada 2013, menjadi 2,16 persen pada 2014, dan akhir semester I-2015 telah naik menjadi 2,48 persen.
Kondisi semakin suram karena berbarengan dengan penurunan nilai tukar rupiah yang mendorong inflasi. Hal ini mengakibatkan risiko yang ditanggung debitor akan menjadi lebih besar.
" Risiko kredit bermasalah lebih besar. Bank-bank saat ini sedang gundah gulana akan potensi kredit macet," ujar Eko sambil berseloroh.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
