Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi
Dream - Dana Moneter Internasional (IMF) menggelar pertemuan perdana dengan tim penasehat eksternal dari sejumlah lembaga keuangan syariah di dunia.
Pertemuan ini muncul, setelah regulator industri keuangan syariah dunia dihadapkan pada isu-isu penting di sektor yang baru berkembang ini.
Keuangan Islami yang saat ini berpusat di Timur Tengah dan Asia Tenggara dikabarkan tengah menghadapi ketatnya pengaturan seiring makin meningkatnya peran di sektor keuangan. Tak hanya di negara muslim, keuangan syariah juga mulai masuk ke pasar negara-negara barat.
Mengutip laporan Zawya, Selasa, 14 Oktober 2014, konsultasi ini diikuti sembilan konsultan eksternal termasuk pelaku industri seperti Islamic Financial Service Board Malaysia dan Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial Institutions dari Bahrain.
Kelompok konsultasi ini merupakan insiatif IMF untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi industri keuangan syariah. Tugas lain adalah mendorong koordinasi diantara lembaga keuangan syariah di dunia.
Pertemuan yang berlangsung di Washington pekan lalu ini mengangkat isu mengenai upaya penyaluran kredit bagi usaha kecil menengah (UKM). Serta implikasi penerapan kebijakan Basel III terhadap operasional bank syariah.
Selama ini bank syariah memang tengah menghadapi permasalahan minimnya aset berkualitas likuid yang bisa memenuhi standar. Selain itu, pelaku industri keuangan syariah juga menghadapi persoalan ketidakpastian aturan pengelolan deposit.
Para pelaku industri keuangan syariah sebetulnya berupaya untuk mengembangkan sejumlah cara untuk mengatasi kekeringan likuditas. Sebagai contoh, IILM telah mengeluarkan surat utang jangka pendek.
Namun kerusakan semakin parah seiring langkah-langkah perusahaan konvensional yang membeli sukuk secara bebas.
Surat utang syariah atau sukuk memang menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dibandingkan obligasi konvensional. Hal ini membuat bank konvensional, dengan kekuatan modalnya, bisa mengalahkan bank-bank syariah dalam proses penawaran di pasar bebas.
Bukti empiris menunjukan konsekuensi langsung dari faktor-faktor di atas adalah ketergantungan bank-bank Islam terhadap uang tunai jauh lebih tinggi dibandingkan bank konvensional.
Data Thomson Reuters mengungkapkan bank komersial Islam diketahui mengelola aset tak kurang dari US $ 1,2 triliun aset pada akhir tahun lalu. Aset ini berasal dari seperempat deposito di negara-negara Teluk dan lebih dari seperlima di Malaysia. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam