Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Kabar gembira mungkin sebentar lagi menyapa para pemilik kendaraan bermotor. Presiden Joko Widodo memberi isyarat akan terjadi penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium menjadi Rp 6.400-6.500 per liter.
Isyarat ini tentunya menjadi kabar baik setelah pemerintah memberikan kado Tahun Baru 2015 berupa penurunan harga premium menjadi Rp 7.600 per liter. Sebelumnya, pemerintah sempat menaikkan harga premium menjadi Rp 8.500 per liter per 18 November lalu.
Menurut Jokowi, penurunan harga BBM bersubsidi ini disebabkan karena terus menurunnya harga minyak dunia.
" Kemarin harga minyak sudah diturunkan. Ini nanti, nanti ya, belum ditentukan waktunya, diperkirakan akan turun lagi, ya sekitar Rp 6.400-Rp 6.500," ujarnya dalam paparan Indonesia Outlook 2015, Jakarta.
Dengan penurunan harga BBM bersubsidi ini, Jokowi berharap pemerintah dapat mengejar pencapaian inflasi di bawah 5 persen. Untuk itu, dia akan meminta berbagai pihak untuk mencapai target tersebut.
" Penurunan ini dengan catatan para direksi bisa mencapai realisasi inflasi yang ditekan di bawah 5. Waktu saya jadi walikota, inflasi itu bisa 1,3 persen, ini karena setiap minggu saya datangi," tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Jokowi juga sempat menceritakan proses terjadinya keputusan kenaikan BBM bersubsidi pada November lalu. Sebagai pengambil keputusan, Jokowi menilai perhitungan para pihak yang terkait BBM bersubsidi ini, seperti Menteri Keuangan dan Menteri ESDM membuktikan bahwa tindakan kenaikan harga BBM sangat diperlukan demi perbaikan postur anggaran negara.
" Waktu itu dikatakan kalau kenaikan harga BBM harus segera dilakukan, ya sudah, saya katakan besok harga naik. Ya saya kan pengambil keputusan, toh itu sudah dihitung sama yang pintar-pintar, jadi saya tidak perlu hitung ulang," ujarnya.
" Meski kanan kiri saya bilang, jangan dilakukan sekarang karena nanti popularitas saya berkurang. Tapi bukan itu, toh dinaikkan juga tidak ada demo. Karena sebelumnya saya juga sudah turun (ke masyarakat), ke petani juga dan ternyata tidak ada apa-apa," tandasnya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya