Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bagaimana Caranya Menjalani Wawancara Dengan Lancar Bagi Korban PHK?
Dream – Pemecatan tentu tidak mengenakkan. Dampaknya tak hanya berlangsung saat ini, tapi juga masa depan. Terlebih ketika mencoba menjajal melamar kerja di perusahaan baru.
Pewawancara biasanya akan menanyakan alasan kamu keluar dari pekerjaan sebelumnya. Jika jawabannya adalah dipecat, tentu pemberi kerja akan bertanya alasannya.
Pertanyaan itu tentu bisa membuat serba salah. Apalagi jika pemecatan dilakukan karena kamu melakukan kesalahan. Meski
Dikutip dari Quartz, Kamis 9 Agustus 2018, para pegawai korban pemecatan punya tiga langkah yang harus dilalui. Yang pertama dan paling penting adalah jangan berbohong.
Penulis blog “ Ask Manager”, Alison Green, menyarankan calon pelamar harus berbicara apa adanya. Sebab, pewawancara akan mencari tahu kebenarannya dan menghubungi referensi untuk memeriksa latar belakang seorang kandidat.
Kedua, menjaga percakapan agar tetap singkat. Green menyarankan untuk tak memberikan panjang lebar. Berbicara terlalu banyak akan menimbulkan masalah. “ Yang kamu butuhkan hanyalah beberapa kalimat untuk menjelaskan apa yang terjadi,” kata dia.
Ketiga, ikuti alur. Kunci sukses menjawab pertanyaan tentang pemecatan, kamu harus fokus pada apa yang harus dipelajari dan rencana untuk maju ke depan. Intinya, kata Green, kandidat harus tenang dan tidak defensif.
Misalnya, kamu bisa berkata seperti ini. “ Sebetulnya, saya dicopot dari pekerjaan. Itu salah saya. Saya mengambil pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tingkat lanjut dan saya tak punya kemampuan itu. Saya pikir bisa cepat paham, tapi meremehkan betapa banyak yang harus saya pelajari. Keputusan mereka tepat dan saya lega bisa kembali ke ranah yang dikuasai.”(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya