7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Jika kamu berpikir biaya penerbangan termahal di dunia ada di kawasan Amerika atau Eropa, jawabannya bukan. Biaya penerbangan termahal di dunia ada di kawasan Afrika.
Menurut laman BBC, yang mencontohkan perbandingan singkat biaya penerbangan dari Berlin ke Istanbul. Diperkirakan akan menelan biaya sekitar US$150 atau sekitar Rp2,2 juta dengan waktu tiga jam.
Namun untuk penerbangan dengan jarak yang sama, seperti antara Kinshasa, ibu kota Republik Demokratik Kongo, dan kota terbesar Nigeria, Lagos, di Afrika, akan dikenakan biaya antara US$500 dan US$850 atau Rp12,8 juta.
Bukan hanya pelancong elit yang terpengaruh, mahalnya biaya penerbangan juga membuat kegiatan bisnis di Afrika sangat sulit dan menelan biaya yang mahal.
Dikutip dari Liputan6.com, Adefolake Adeyeye, asisten profesor hukum komersial di Universitas Durham Inggris, mengatakan bahwa Afrika secara keseluruhan masih tertinggal karena layanan udaranya yang buruk.
" Terbukti bahwa transportasi udara meningkatkan perekonomian. Seperti yang telah kita lihat di benua lain, maskapai murah dapat meningkatkan konektivitas dan biaya, yang meningkatkan pariwisata, yang kemudian menciptakan lebih banyak lapangan kerja," katanya.
Kualitas jaringan jalan yang buruk dan kurangnya jalur kereta api di banyak negara Afrika sering menjadikan transportasi udara sebagai pilihan praktis untuk kargo.
Tetapi dikarenakan keadaan darurat iklim, hal ini membuat setiap orang harus lebih berhati-hati tentang jejak karbon mereka dan harus mengurangi terbang.
Tetapi meskipun sekitar 18 persen dari populasi dunia tinggal di Afrika, jumlah itu menyumbang kurang dari 2 persen dari perjalanan udara global. Dan menurut Program Lingkungan PBB, hanya 3,8 persen dari emisi gas rumah kaca global. Berbeda dengan 19 persen dari AS dan 23 persen dari China.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) badan perdagangan global yang mewakili sekitar 300 maskapai penerbangan yang membentuk sekitar 83 persen lalu lintas udara dunia, berpendapat bahwa jika hanya 12 negara utama di Afrika yang bekerja sama untuk meningkatkan konektivitas dan membuka pasar mereka, langkah itu akan menciptakan 155.000 pekerjaan dan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara tersebut lebih dari US$1,3 miliar.
" Penerbangan berkontribusi langsung terhadap PDB di setiap negara. Penerbangan menghasilkan pekerjaan dan mengaktifkan perekonomian," kata Kamil al-Awadhi, wakil presiden regional IATA untuk Afrika dan Timur Tengah.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?