Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Media Sosial
Dream - Era digital dan sosial media telah memicu dilema etika baru dalam hubungan antara manusia. Pertanyaan-pertanyaan muncul seputar kepantasan tindakan yang dilakukan para pemilik Sosial media.
Apa yang akan Anda lakukan saat menerima ajakan pertemanan dari pimpinan perusahaan? atau benarkan kita mengunggah foto pernikahan teman? Kapan sebaiknya mematikan perangkat Googleglass?
Ahli etika, menilai buku mengenai perilaku perlu segera dibuat dan menjadi literatur dalam menghadapi teknologi baru dan media sosial.
" Teknologi menjadi wilayah yang menggelisahkan bagi sebagian orang," kata Steven Petrow, penulis buku etika yang bulan lalu baru saja membuka kolom perilaku digital untuk USA Today.
Dalam kolomnya belum lama ini, Petrow melayangkan pertanyaan terkait email massal yang mencantumkan alamat surat elektronik dari penerimanya.
Media sosial seperti Facebook seringkali berhadapan dengan dilema etika. Jika seseorang mengirimkan kabar kematian, kelahiran, lamaran sebelum pengumuman dari pihak terkait, kondisi ini justru memicu ketegangan diantara keluarga.
" Pada prinsipnya, saya kembali kembali nilai-nilai utama yang mengatur mengenai penghormatan, kebaikan, dan kesopakan," ujar Petrow.
" Sekali Anda mengirimkan informasi, Anda tak bisa lagi mengendalikan informasi itu," tambah Emily Yoffe, dalam salah satu kolomnya seperti dikutip laman Emirate247, Senin, 7 Juli 2014.
Terkait permintaan pertemanan dari bos atau pimpinan perusahaan, Petrow mengusulkan para manager untuk mengarahkan kondisi ini menjadi lebih jelas. Jangan sampai, dilema yang tercipta dari permintaan ini justru melahirkan munculnya konflik.
Petrow menyarankan para pegawai untuk tak mengabaikan permintaan pertemanan bos tersebut. Pegawai bisa menawarkan pertemanan di situs yang lebih profesional seperti Linked-In.
Tak hanya Facebook, media sosial seperti Twitter juga bisa mengancam karier seorang pegawai. " Sejumlah orag kehilangan pekerjaa karena tweet saran yang salah," ujar Yoffe.
Publik, lanjutnya, seringkali berpikir tengah melakukan pembicaraan one-on-one. Publik lupa bahwa media yang mereka gunakan sepenuhnya bergerak di area publik.
Sudah banyak kasus kekeliruan tweet yang justru berakhir dengan masalah. Maskapai Belanda, KLM, belum lama ini harus menghadapi kemarahan publik jagat maya usai menyampaikan Selamat Tingga (Adios Amogis) seteleh Belanda menang atas Meksiko dalam laga Piala Dunia.
" Kami terus mendorong perusahaan untuk menciptakan komunikasi dua arah dan melayani. Namun mereka harus sadar perkataannya mewakili merek perusahaan," kata Jeanette Hibson dari Hootsuite. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya