Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Bos Ajak Berteman di Facebook, Terima Atau Cuek?

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 8 Juli 2014 07:07
Bos Ajak Berteman di Facebook, Terima Atau Cuek?
Pernah menerima ajakan pertemanan bos atau pimpinan di Facebook atau Twitter? apa yang Anda lakukan?

Dream - Era digital dan sosial media telah memicu dilema etika baru dalam hubungan antara manusia. Pertanyaan-pertanyaan muncul seputar kepantasan tindakan yang dilakukan para pemilik Sosial media.

Apa yang akan Anda lakukan saat menerima ajakan pertemanan dari pimpinan perusahaan? atau benarkan kita mengunggah foto pernikahan teman? Kapan sebaiknya mematikan perangkat Googleglass?

Ahli etika, menilai buku mengenai perilaku perlu segera dibuat dan menjadi literatur dalam menghadapi teknologi baru dan media sosial.

" Teknologi menjadi wilayah yang menggelisahkan bagi sebagian orang," kata Steven Petrow, penulis buku etika yang bulan lalu baru saja membuka kolom perilaku digital untuk USA Today.

Dalam kolomnya belum lama ini, Petrow melayangkan pertanyaan terkait email massal yang mencantumkan alamat surat elektronik dari penerimanya.

Media sosial seperti Facebook seringkali berhadapan dengan dilema etika. Jika seseorang mengirimkan kabar kematian, kelahiran, lamaran sebelum pengumuman dari pihak terkait, kondisi ini justru memicu ketegangan diantara keluarga.

" Pada prinsipnya, saya kembali kembali nilai-nilai utama yang mengatur mengenai penghormatan, kebaikan, dan kesopakan," ujar Petrow.

" Sekali Anda mengirimkan informasi, Anda tak bisa lagi mengendalikan informasi itu," tambah Emily Yoffe, dalam salah satu kolomnya seperti dikutip laman Emirate247, Senin, 7 Juli 2014.

Terkait permintaan pertemanan dari bos atau pimpinan perusahaan, Petrow mengusulkan para manager untuk mengarahkan kondisi ini menjadi lebih jelas. Jangan sampai, dilema yang tercipta dari permintaan ini justru melahirkan munculnya konflik.

Petrow menyarankan para pegawai untuk tak mengabaikan permintaan pertemanan bos tersebut. Pegawai bisa menawarkan pertemanan di situs yang lebih profesional seperti Linked-In.

Tak hanya Facebook, media sosial seperti Twitter juga bisa mengancam karier seorang pegawai. " Sejumlah orag kehilangan pekerjaa karena tweet saran yang salah," ujar Yoffe.

Publik, lanjutnya, seringkali berpikir tengah melakukan pembicaraan one-on-one. Publik lupa bahwa media yang mereka gunakan sepenuhnya bergerak di area publik.

Sudah banyak kasus kekeliruan tweet yang justru berakhir dengan masalah. Maskapai Belanda, KLM, belum lama ini harus menghadapi kemarahan publik jagat maya usai menyampaikan Selamat Tingga (Adios Amogis) seteleh Belanda menang atas Meksiko dalam laga Piala Dunia.

" Kami terus mendorong perusahaan untuk menciptakan komunikasi dua arah dan melayani. Namun mereka harus sadar perkataannya mewakili merek perusahaan," kata Jeanette Hibson dari Hootsuite. (Ism)

Beri Komentar