Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Ilustrasi Kilang Minyak
Dream - Ketenaran Kerajaan Arab Saudi sebagai produsen minyak bumi terbesar di dunia pelan-pelan mulai terbenam. Status yang sudah lama didapuk negeri kaya Islam ini bakal diambil alih oleh Amerika Serikat (AS). Benarkah demikian?
Sebuah laporan dari Bank of America mengungkapkan produksi minyak mentah AS dari batuan (shalegas) telah mencapai level yang tinggi tahun ini. Bahkan produksi minyak mentah dan sampingannya berupa gas alam dari batuan shale telah melebihi produksi di Arab Saudi dan Rusia.
Disebutkan, produksi harian di AS melebihi 11 juta barel pada semester pertama tahun ini dan diperkirakan akan meningkat menjadi 13,1 juta barel per hari pada 2019. Laporan itu mengatakan produksi akan tetap pada tingkat yang sama selama setidaknya 10 tahun.
" Kenaikan suplai minyak Amerika ini sangat berarti," kata Francisco Blanch, Kepala Penelitian Komoditas Bank of America.
Ditambahkan Blanch, booming minyak dari batuan shale memainkan peran penting dalam pemulihan ekonomi AS. Jika saja AS tidak memiliki pasokan energi ini, harga minyak di SPBU akan benar-benar tidak terjangkau.
Ekstraksi minyak dari batuan shale meningkat tajam di Texas dan North Dakota.
'Produksi minyak dari batuan shale lebih besar dari produksi Irak, meski pun belum berdampak pada harga yang diharapkan. Meningkatnya pasokan energi yang besar dari negara Teluk seharusnya mebuat harga menjadi rendah, namun pada kenyataannya kita tidak melihat itu karena seluruh geopolitik di luar AS dalam situasi yang mengerikan,' kata Blanch.
Branch mengacu pada aksi kelompok yang ingin mendirinkan negara Islam di Irak utara yang meningkatkan kekhawatiran produksi minyak negara itu. (Ism)
Advertisement
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28

Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane

Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama


3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya


Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
