Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Di tengah mahasiswa London Business School, pimpinan National Bank of Oman (NBO) Mohammed Mahfoodh Al Ardhi memamerkan betapa besarnya potensi dan kekuatan sistem keuangan Islam.
" Keuangan Islam tumbuh dua kali lipat dari industri keuangan tradisional. Dengan pasar intinya meliputi Malaysia, Indonesia, Turki, dan negara-negara Timur Tengah. Industri ini kini memiliki aset US$ 1,6 triliun untuk sektor perbankan," kata Al Ardhi, seperti dikutip dari website CPI Financial, Kamis, 23 Oktober 2014.
Menurut Al Ardhi, negara-negara Timur Tengah di bawah kepemimpinan Arab Saudi, telah berkomitmen untuk secara aktif memperkuat posisi mereka dalam pasar keuangan Islam.
" Kami, di National Bank of Oman telah melakukan upaya yang signifikan dalam keuangan Islam sehingga kini mencapai kesuksesan besar dan menjadi bagian dari rencana luas diversifikasi ekonomi di Oman. Bahrain dan Dubai pun kini mulai fokus pada sistem ini," ujarnya.
Pernyataan Al Ardhi ini disampaikan dalam pidatonya di tengah kuliah umum London Business School. Menyoroti implikasi praktis dari keuangan Islam, skenario industri saat ini, serta peluang dan tantangan, Al Ardhi membandingkannya dengan model ekonomi konvensional.
" Keuangan Islam didasarkan pada fakta bahwa uang bukanlah faktor sumber potensi modal, tetapi ada media, fasilitator untuk perdagangan dan investasi. Keuangan Islam menerapkan prinsip pembagian risiko dan investasi bersama dan tidak berdasarkan pada aksi spekulatif," tegasnya.
Dia menegaskan bahwa sistem keuangan Islam yang ada saat ini merupakan sistem keuangan yang bijaksana, minim risiko, dan lebih beretika dibanding sistem keuangan konvensional.
Sementara itu Profesor Sir Andrew Likierman, Dean, dari London Business School menyatakan pihaknya juga telah menjalan kerjasasama dengan pihak Oman, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi untuk mengembangkan perekonomian guna kesejahteraan masyarakat. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya