Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Petugas Bank Indonesia
Dream - Hanya dalam rentang satu bulan, tabungan pemerintah berupa cadangan devisa terkuras US$ 2,3 miliar atau sekitar Rp 32,52 triliun (Kurs Rp 14.138/US$).
Sebagian besar tabungan pemerintah di bank sentral tersebut tersedot untuk membiayai upaya stabilisasi rupiah yang anjlok terhadap dollar AS.
Mengutip keterangan tertulis Bank Indonesia (BI), Senin, 7 September 2015, Cadangan Devisa (Cadev) Indonesia hingga akhir Agustus 2015 berada di level 32.517.400.000.000 kurs (Rp 14.138 per dollar AS)
Level Cadev ini lebih rendah dari posisi akhir Juli 2015 sebesar US$ 107,6 miliar, atau berkurang US$ 2,3 miliar.
BI menjelaskan, perkembangan terbaru Cadev ini disebabkan oleh peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan fundamentalnya.
" Hal tersebut sejalan dengan komitmen Bank Indonesia yang telah dan akan terus berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ungkap BI.
Bank sentral melaporkan telah menghabiskan tak kurang dari Rp 233,429 triliun untuk stabilisasi rupiah lewat kegiatan operasi pasar terbuka (OPT).
Sementara tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan kredit likuiditas mencapai Rp 545,876 triliun dan Rp 5,920 triliun.
Pemerintah dianggap sukses menahan penurunan lebih lanjut setelah mendapatkan pasokan tambahan dari kenaikan penerimaan devisa bersumber dari penerbitan Samurai Bonds.
Dengan posisi Cadev tersebut, Indonesia masih sanggup membiayai 7,1 bulan impor atau 6,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Posisi Cadev ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya