Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Bursa syariah Indonesia ikut terseret kecemasan pelaku pasar yang melakukan aksi jual saham. Sentimen negatif ini menambah tekanan yang sudah muncul dari bursa regional.
Beruntung keputusan Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis poin membuat investor berburu saham-saham sektor keuangan.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turun 1,549 poin (1,08%) ke level 141,780.
Indes saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII) juga melemah 7,740 poin (1,29%) ke level 594,123.
Tergusurnya sentimen positif penurunan BI Rate akibat bom Sarinah membuat indeks syariah mendekam di zona negatif sepanjang perdagangan.
ISSI hanya mampu menembus level tertinggi di zona merah di level 142,887 dan rontok ke level terendah 140,235.
Kepanikan investor yang melakukan aksi jual usai muncul sentimen Bom Sarinah membuat 125 emiten syariah jatuh ke zona merah. Namun investor yang berani mengambil risiko berhasil membawa 45 emiten ISSI ke zona hijau dan 49 lainnya bertahan stagnan.
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencapai Rp 3,92 triliun dengan 31,69 miliar saham beralih kepemilikan.
Bursa saham Indonesia hanya menyisakan dua indeks sektoral di zona positif yaitu pertanian (0,75%) dan keuangan (0,05%). Sisanya bergerak melemah dipimpin emiten industri dasar yang turun 1,71 persen, infrastruktur 1,29 persen dan perdagangan 1,13 persen.
Di jajaran JII, saham bluechips syariah yang selama ini menjadi motor penggerak indeks juga dilanda kepanikan pasar. Alhasil, hanya 4 emiten yang ditutup menguat dan sisanya terjun ke zona merah.
Keempat emiten pencetak top gainer itu adalah AALI yang naik Rp 75, SSMS Rp 60, LSIP Rp 45, dan ASRI Rp 1 per saham.
Sebaliknya, top looser dihuni emiten seperti INTP yang terkoreksi Rp 475, UNVR Rp 375, LPPF Rp 325, SMGR Rp 200, dan AKRA Rp 200 per saham.
Dengan derasnya sentimen negatif yang diterima pelaku pasar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tak bisa berbuat banyak. IHSG ditutup melemah 23,998 poin (0,53%) ke level 4.513,181. Posisi ini sebetulnya lebih baik dari sesi pembukaan IHSG yang sempat terlempar dari level 4.500.
Investor asing semakin meningkatkan aksi jual saham dengan mencetak nett sell Rp 441 miliar.
Dari pasar keuangan, kurs rupiah akhirnya bergera melemah. Turun 68 poin (0,49%), rupiah sore ini bertengger di level 13.903 per dollar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya