Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
IHSG Dan Indeks Syariah Melemah Pada Penutupan Perdagangan Hari Ini.
Dream - Indeks saham syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI) kehabisan tenaga untuk kembali bergerak menanjak. Setelah kemarin bergerak seharian di zona merah, laju tiga indeks acuan saham syariah hari ini (Jumat, 14 Desember 2018) malah bergerak fluktuatif dan dan ditutup melemah.
Minimnya sentimen positif dari dalam negeri membuat investor tersengat oleh kabar negatif dari kawasan regional. Tekanan yang kembali terjadi pada rupiah turut memperberat laju indeks saham.
Dikutip dari papan perdagangan BEI, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terpeleset 0,209 poin (0,11%) ke level 182,782. ISSI bergerak fluktuatif setelah sempat dibuka menguat di level 183,391. Namun ISSI masih sanggup bertahan di zona hijau hingga sesi perdagangan pertama.
Tekanan baru muncul di sesi kedua perdagangan. ISSI hanya bertahan sesaat di zona hijau sebelum menghabiskan sisa waktu perdagangan di zona merah. ISSI bisa menembus level tertinggi di 183,588 dan terendah 182,423.
Koreksi juga dialami indeks keping biru syariah, Jakarta Islamic Index (JII) yang turun 0,219 poin (0,03%) ke level 684,190. Indeks JII70 beringsut 0,342 poin (0,15%) ke 227,527.
Untuk sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus bersabar untuk menembus level 6200. Terpangkas 7,877 poin (0,13%), IHSG di pekan kedua Desember 2018 ini menutup perdagangan di level 6.169,843.
Perdagangan saham syariah kali ini sedikit berkurang dengan nilai transaksi mencapai Rp3,53 triliun dari 39,74 miliar lembar saham.
Pasar kurang mendapat angin segar sehingga membuat investor enggan melantai di bursa. Investor hanya tertarik bertanam uang di saham barang konsumsi, pertanian, manufaktur, dan perdagangan. Keempat indeks ini terangkat masing-masing 0,55 persen, 0,39 persen, dan 0,12 persen, dan 0,01 persen.
Aksi profit taking investor membuat tiga indeks sektoral mendapat tekanan jual. Koreksi terjadi pada indeks sektor pertambangan yang turun 0,65 persen, industri dasar 0,62 persen dan keuangan 0,55 persen.
Emiten syariah pencetak top gainer hari ini adalah KINO yang harga sahamnya menguat Rp340, MERK Rp300, ICBP Rp275, INDF Rp175, dan PNSE Rp165.
Sebaliknya, top losser justru disisi saham bluechips syariah yang selama ini jadi motor penggerak ISSi. Emiten yang mengalami koreksi harga terbesar itu adalah ITMG yang melemah Rp575, GDYR Rp240, INDR Rp225, SMGR Rp175, dan KAEF Rp120.
Dari pasar uang, jam 16.08, rupiah tertekan oleh dolar AS. Kurs dolar AS melemah 63 poin (0,43%) ke level Rp14.599.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat rupiah terkoreksi tipis 2 poin. Hari ini dollar AS rata-rata diperdagangkan di level Rp14.538.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya