Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pesawat Milik Garuda Indonesia
Dream - Investor Timur Tengah tengah menjadi primadona para pencari dana segar. Tak terkecuali perusahaan-perusahaan besar asal Indonesia.
Belum lama ini, maskapai penerbangan nasional, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengaku telah menandatangani perjanjian pembiayaan bernilai US$ 400 juta dengan dua bank Timur Tengah.
Perjanjian kerjasama bridge financing facility ini dilakukan dengan dua institusi keuangan internasional asal Timur Tengah yaitu National Bank of Abu Dhabi dan Dubai Islamic Bank.
" Bridge financing facility ini ditujukan untuk menunjang rencana pembiayaan Perseroan ke depan," kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra dalam keterangan persnya seperti dikutip Dream, Rabu, 25 Februari 2015.
Meski mendapatkan pembiayaan dari dua bank, Danadiputra menyatakan langkah ini sebagai bagian dari rencana pembiayaan dan pengembangan perusahaan ke depan melalui penerbitan Obligasi Sukuk International (" Global Sukuk Bond" ) sebesar US$ 500 juta.
" Sambil menunggu momentum yang tepat bagi Garuda Indonesia untuk menerbitkan Global Sukuk Bond," katanya.
Danadiputra mengatakan kedua institusi bank juga berkomitmen untuk menjadikan kerjasama pembiayaan ini sebagai “ back stop facility” seandainya kondisi pasar modal tidak kondusif. Dengan cara ini, kedua pihak meminimalkan sisi risiko pembiayaan.
Maskapai penerbangan terbesar di Indonesia ini memang tengah gencar mewujudkan strategi pengembangan perusahaan ke depan lewat program Quick Win.
Garuda menyadari kondisi industri penerbangan -bukan saja domestik namun juga global- dewasa ini sedang mengalami turbulensi. Kondisi perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap US Dollar, serta aspek persaingan pasar yang ketat, telah memberi dampak signifikan terhadap kinerja perusahaan-perusahaan penerbangan domestik dan internasional, termasuk Garuda Indonesia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya