Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dunia Usaha Diminta Menyediakan Daycare Selama Masa Kenormalan Baru. (Foto: Wikipedia)
Dream – Masa kenormalan baru telah tiba dan dunia usaha bersiap untuk menggeliat kembali.
Pemerintah mendorong dunia usaha untuk menerapkan kebijakan kerja yang ramah keluarga selama masa new normal. Apa itu?
" Seperti pengaturan jam kerja yang fleksibel dan penyediaan fasilitas daycare bagi anak yang orang tuanya bekerja," kata Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga Bappenas, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, dikutip dari Merdeka.com, Jumat 19 Juni 2020.
Dunia usaha juga didorong tetap menerapkan protokol kesehatan di tempat kerja, mendorong pekerja mengakses layanan kesehatan, dan mendukung langkah-langkah pelindungan sosial lainnya, termasuk deteksi dini kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Sementara itu, orang tua yang bisa bekerja di rumah juga tetap harus melakukan pengasuhan anak yang optimal. Perlu disusun kegiatan belajar mengajar virtual yang lebih kepada tambahan keterampilan seperti diskusi berpikir kritis dengan metode menyenangkan dan memberikan stimulus kognitif yang sesuai dengan usia anak.
" Anak dan orang tua tidak mengalami stres karena perubahan pola pembelajaran anak selama masa pandemi COVID-19," kata dia.
Dream – Pemerintah bergerak cepat mempersiapkan berbagai kebijakan menuju adaptasi kebiasaan baru sebagai upaya mencegah penularan penyakit Covid-19. Tatanan hidup baru, (New Normal) juga diharapkan bisa membuat kehidupan sosial dan ekonomi berangsur-angsur normal dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Permasalahan Covid-19 tak semata-mata persoalan kesehatan. Wabah virus corona juga sudah melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial.
" Pemerintah memiliki tiga kebijakan atau strategi utama dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini. Pertama, dalam konteks kesehatan, pemerintah berusaha maksimal agar tidak terjadi kasus yang terus meningkat. Seluruh masyarakat harus dalam kondisi aman," ujar Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, pada Rapat Pimpinan Nasional III Majelis Nasional KAHMI dengan tema “ Kebijakan Pemerintah Menuju Era The New Normal”, di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu 10 Juni 2020.
![]()
Kedua, lanjut Moeldoko, masyarakat harus bisa makan. Untuk itu, pemerintah menetapkan program perluasan bantuan sosial dan jarring pengaman sosial.
Ketiga, masyarakat harus tetap bisa berusaha. Secara khusus, pemerintah mendukung pengembangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di masa pandemi ini. Untuk mencapai tiga upaya kebijakan strategis tersebut, pemerintah sudah menganggarkan biaya dari APBN.
“ Apabila kita tak memerhatikan sektor ekonomi, masyarakat akan repot. Untuk itu, prioritas utama pemerintah adalah bagaimana menangani Covid-19 di berbagai sektor, tidak hanya kesehatan.” kata dia.
Pemerintah juga melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak serta komunitas dalam menghadapi pandemi ini.
“ Kita harus percaya diri tak boleh pesimis menghadapi situasi ini karena bukan hanya Indonesia. Kita bangun komunikasi yang tidak saling menyalahkan, tapi bagaimana membangun komunikasi yang baik menuju pada goyong-royong sehingga masalah pandemi ini bisa tuntas,” papar Moeldoko.
Saat ini, pemerintah sedang menyusun berbagai protokol adaptasi kebiasaan baru secara lebih rinci, baik untuk sektor usaha, publik, tempat kerja, lembaga pendidikan atau sekolah, dan tempat ibadah.
“ Semua kementerian sudah menyiapkannya dengan baik dan berkonsultasi dengan Kementerian Kesehatan agar sesuai dengan protokol yang ditetapkan Kementerian Kesehatan dan Badan Kesehatan Dunia (WHO)," ungkap Moeldoko.
Terkait relaksasi pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), menurut Moeldoko, pemerintah tidak akan terburu-buru mendeklarasikan bahwa suatu wilayah dikatakan aman karena mobilitas manusia tidak bisa dihentikan. Penentuan relaksasi ini juga tidak serta-merta dilakukan oleh pemerintah pusat. Akan tetapi, hal itu merupakan kesepakatan dengan kepala daerah masing-masing.
Presiden Joko Widodo setiap minggu selalu melakukan evaluasi perkembangan Covid-19 di seluruh wilayahh. Hasil dari evaluasi tersebut menjadi dasar pemerintah mengukur penyebaran COVID-19.
Pemerintah memiliki berbagai parameter untuk menetapkan apakah suatu wilayah sudah dapat dinyatakan zona hijau atau belum. Semuanya harus dikalkulasi dengan baik berdasarkan data epidemiologis serta hasil tes yang dilakukan secara massal.
“ Pemerintah daerah akan melakukan simulasi untuk sektor strategis. Misalnya di DKI sekarang pada masa transisi sebagai sebuah prakondisi relaksasi agar masyarakat betul-betul siap nanti di masa zona hijau,” kata dia.
Moeldoko meminta protokol kesehatan yang ketat untuk terus diterapkan, sehingga tatanan normal baru akan dapat diterapkan ke semua sektor dan wilayah. Komitmen dari masyarakat dan dunia usaha harus betul-betul terjaga dengan baik agar angka kasus terinfeksi Covid-19 tidak meningkat.
Transmisi atau penularan Covid-19 masih sangat mungkin terus terjadi. Oleh karena itu, setiap orang harus dipastikan disiplin dan komitmen mematuhi protokol kesehatan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya