Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Bursa saham syariah tak mampu keluar dari zona negatif. Tekanan jual akibat sentimen aksi jual asing dan tak jelasnya laju indes regional membuat pelaku pasar menghindari pasar.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 2 Februari 2016, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) melemah 1,006 poin (0,70%) ke level 143,415.
Indeks saham bluechips syariah, Jakarta Islamic Index (JII), yang mendekam seharian di zona merah juga turun 7,382 poin (1,21%) ke level 603,721.
Berbeda dengan JII, indeks acuan saham syariah ISSI justru sempat bergerak menguat. ISSI sempat masuk zona positif dan menembus level tertinggi di 144,761.
Transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencapai Rp 3,38 triliun dengan 29,13 miliar saham berpindahtangan.
Aksi beli investor hanya bisa mengangkat 74 emiten syariah ke zona hijau. Sebagian besar penghuni ISSI justru bergerak melemah dengan 101 emiten menutup perdagangan di teritori negatif.
Sebagian besar indeks sektoral bergerak melemah. Hanya emiten pertambangan yang naik 0,81 persen dan properti 0,12 persen.
Emiten sektor industri aneka yang selama ini menjadi motor penggerak bursa justru dilanda tekanan jual. Indeks ini turun 2,94 persen. Koreksi dalam juga dialami emiten sektor infrastruktur yang turun 1,56 persen dan keuangan 0,92 persen.
Tiga emiten kelompok Astra memimpin daftar top losser seperti saham UNTR yang turun Rp 875, AALI Rp 500, dan ASII Rp 225 per saham. Penghuni lainnya adalah INTP yang turun Rp 450 dan SMGR Rp 175 per saham.
Sebaliknya emiten UNVR memimpin daftar top gainer dengan kenaikan Rp 675 per saham. Diikuti AKRA yang naik Rp 125, PTPP Rp 85, ITMG Rp 70, dan WST Rp 50 per saham.
Tanpa adanya sentimen positif yang muncul, laju bursa saham Indonesia seolah tiarap sepanjang perdagangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 37,200 poin (0,80%) ke level 4.587,435.
Lantai bursa saham Indonesia ramai dengan aksi jual beli dengan nilai mencapai Rp 5,87 triliun. Sebanyak 39,39 miliar saham jadi objek transaksi investor.
Investor asing hari ini justru berbalik arah. Asing kali ini melakukan aksi jual saham dengan nett sell Rp 197,7 miliar.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya