Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bursa Efek Indonesia (sumber: Http://ANTARAfoto.com)
Dream - Bursa saham syariah Indonesia gagal mempertahankan laju positifnya seiring mulai munculnya aksi ambil untung investor. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamc Index (JII) pun menutup perdagangan perdana Februari 2016 di zona negatif.
Investor sedikit cemas dengan kondisi regional yang mulai tertekan. Terlebih indeks Shanghai dan Hang Seng ditutup melemah.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 1 Februari 2016, indeks ISSI berbalik melemah 0,462 poin (0,32%) ke level 144,421.
Indeks saham bluechips syariah, JII, juga ditutup turun 1,647 poin (0,27%) ke level 611,103.
Kedua indeks acuan saham syariah ini sebetulnya dibuka menguat di awal perdagangan. Saham industri aneka menjadi motor penggerak bursa.
Namun harga minyak mentah yang cenderung flat, serta koreksi indeks bursa Tiongkok dimanfaatkan pelaku pasar untuk menggelar aksi ambil untung.
Aksi jual pun semakin marak di perdagangan sesi kedua. Dengan transaksi jual beli saham syariah mencapai Rp 3,26 triliun, sebanya 94 emiten ISSI menutup awal pekan di zona negatif dan 57 lainnya bertahan stagnan.
Investor masih mencoba mengoleksi saham 70 emiten syariah yang sore ini ditutup menguat.
Saham sektor industri aneka yang menjadi motor penggerak di awal sesi justru berbalik melemah. Indeks ini memimpin pelemahan dengan koreksi 1,28 persen. Disusul emiten sektor komoditas yang turun 1,27 persen untuk pertambangan dan 1,26 persen di sektor perkebunan.
Emiten unggulan syariah yang mengalami tekanan jual terbesar dialami INTP yang turun Rp 300 per saham. Top losser lainnya dihuni ASII yang turun Rp 100, ITMG Rp 80, AALI Rp 75, dan PTPP Rp 74 per saham.
Sebaliknya, pencetak top gainer kali ini dihuni JSMR yang naik Rp 175, SILO Rp 175, LPPF Rp 150, UNVR Rp 100, dan INDF Rp 75 per saham.
Berbeda dengan indeks syariah yang melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru sukses ditutup menguat. Tertekan jelang penutupan, IHSG naik tipis 9,472 poin (0,21%) ke level 4.624,635.
Lantai bursa pun ramai dengan guyuran dana hingga Rp 5,09 triliun. Pemodal asing masih aktif melakukan transaksi dengan nett buy Rp 416 triliun.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya