Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Joko Widodo.
Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi pembicara utama dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Tiongkok. Dalam acara ini, Jokowi mengatakan Indonesia mendorong dibentuknya system perpajakan internasional yang adil dan transparan.
Tak hanya itu, Indonesia juga mengimbau setiap negara untuk tidak membuat kebijakan yang merugikan negara lain.
“ Mengingat perlambatan ekonomi global, Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan pendapatan pajak dalam menjaga iklim bisnis dan investasi. Hal ini membutuhkan sistem perpajakan internasional yang adil dan transparan,” kata Jokowi dilansir dari setkab.go.id, Senin 5 September 2016.
Dia mengatakan kebutuhan akan kerja sama internasional dalam sistem perpajakan tersebut berguna untuk menghindari ada penghindaran pajak dan mendorong kebijakan pajak yang kondusif di masing-masing negara anggota. Jokowi menyebut sistem tersebut pada akhirnya bisa meningkatkan pendapatan bagi negara berkembang.
Untuk itu, mantan gubernur DKI Jakarta ini mendukung kerja sama dan koordinasi antar negara-negara anggota G-20 untuk mengimplementasikan Automatic Exchange of Information (AEoI) yang biasa disebut dengan keterbukaan informasi untuk kepentingan perpajakan.
“ Saya percaya transparansi keuangan melalui AEoI akan bermanfaat dalam mengatasi arus keuangan terlarang yang telah menghasilkan kerugian bagi negara-negara berkembang selama bertahun-tahun,” kata dia.
Sementara Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menambahkan, seluruh kelompok negara G20 terutama di level tingkat Menteri Keuangan bersepakat untuk bersama-sama melakukan upaya penghindaran erosi pajak, dan pertukaran informasi sehingga semua negara mempunyai kemampuan fiskal yang cukup untuk melakukan tugasnya.
Menurut Sri Mulyani, semua negara anggota G20 sepakat untuk membahas mengenai bagaimana upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, lebih berkualitas, dan lebih inklusif. (Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya