7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Bisnis Ikan Cupang Apsiah Bisa Berkembang Berkat Pendanaan Dari Fintech Peer To Peer Lending. (Foto: Dream.co.id/Arie Dwi Budiawati)
Dream – Bagi Apsiah mengelola bisnis ikan cupang tidaklah mudah. Terlebih jika harus ikut mengatur keuangannya. Untuk mengembangkan usahanya, dia bersusah payah mendapatkan sumber dana.
Kepada Dream, Kamis 14 Desember 2017, wanita berusia 32 tahun ini berkisah tentang bisnis ikan cupangnya. Bersama sang suami, Apsiah mulai merintis usaha cupang. Dia kebagian tugas beternak cupang sementara penjualan diserahkan kepada suaminya yang berniaga ke Jakarta.
Keputusan memulai usaha ini dibangun dari modal cekak. Apsiah hanya berbekal kemampuan beternak cupang. Sementara uang sama sekali tak ada.
“ Sewaktu itu, modal tak punya dan rumah masih campur dengan orang tua. Kami juga tak punya sepeda motor. Saya dan suami sepakat untuk mandiri,” kata dia di Jakarta.
Apsiah mengatakan bersama kakaknya, ibu beranak satu ini mengembangbiakkan ikan cupang di rumahnya di Parung, Bogor. Hasil ikan ternakan dijual suami di daerah Jatinegara, Jakarta.
Hingga saat tersulit menyambangi bisnis mereka. Apsiah mulai kekurangan modal untuk menjalankan bisnis. Meminjam ke orang tua bukan solusi. Keluarga mereka sama-sama bukan dari kalangan berduit.
Meski butuh modal, Apsiah ogah meminjam uang kepada rentenir. Dia tahu susahnya hidup dengan pinjaman dari para pencuri rente ini.
“ Bukannya mengembangkan usaha, malah menghabiskan uang. Waktunya hanya sebulan dan harus mengembalikan bunga dan pokok pinjaman,” kata dia.
Jawaban Datang
Hingga tahun 2011, Apsiah meluang peluang tambahan modal. Dia tertarik dengan tawaran pinjaman uang yang disediakan sebuah aplikasi layanan jasa keuangan berbasis digital. Ketika itu, dia diajak oleh ibu RT untuk bergabung ke suatu kelompok. Kelompok ini mengajukan pembiayaan ke PT Amartha Mikro Fintech—fintech peer to peer lending yang menghubungkan peminjam dengan investor.
Dari sana, dia mendapatkan pembiayaan sebesar Rp500 ribu. Uang yang digunakan untuk uang muka sepeda motor agar sang suami menghemat ongkos transportasi.
Pembiayaan dari Fintech itu membuat Apsiah tersenyum. Dia mengaku angsurannya tak memberatkan pelaku mikro. Selama 50 minggu, wanita ini mengangsur cicilan sebesar Rp13 ribu per minggu.
“ Ringan, kan?” kata dia.
Setelah lunas, Apsiah kembali mengajukan pinjaman untuk membeli bibit ikan, membangun kolam, dan merenovasi teras rumah. Besarannya meningkat jadi Rp5 juta.
Berkat keuletannya, bisnis ikan cupang Apsiah dan suami berkembang. Di samping lapak ikan di Jatinegara, suami-istri ini bisa memiliki 1 kios di daerah Blok M dan tanah di Parung, serta sepeda motor untuk usaha. Mereka juga bisa membangun rumah di tanah yang dibelinya. Setiap bulannya, dia bisa meraup pemasukan Rp5 juta dari bisnis cupang.
“ Alhamdulillah, sekarang saya bisa mengangsur mobil,” kata dia.
(Sah)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?