Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Saat ini, baru 2 persen kontribusi perempuan yang bekerja di sektor industri di Arab Saudi. Padahal, pemerintah menilai kontribusi ini dapat ditingkatkan.
Seperti dikutip dari Arab News, Minggu 8 Juni 2014, perempuan bisa memberikan kontribusi yang besar di beberapa sektor industri. Di mana saja? Seperti desain dan garmen, manufaktur, perhiasan, perakitan perangkat elektronik, pembuatan coklat, makanan, parfum, dan kosmetik.
Asisten Wakil Pengembangan di Departemen Tenaga Kerja Fahd bin Suleiman Al Tejekhifi mengatakan, pemerintah tengah menggalakkan feminisasi di industri. Tujuannya, guna meningkatkan partisipasi perempuan di sektor swasta dengan memberikan insentif dan substitusi secara bertahap dalam jangka pendek.
Sementara untuk jangka panjang, peningkatan partisipasi perempuan dalam sektor swasta ini akan melibatkan pengembangan dan pelaksanaan studi, serta pelaksanaan link elektronik untuk mengurangi masalah tersebut.
Al Tejekhifi menjelaskan ada larangan mempekerjakan perempuan pada beberapa sektor industri, tetapi perempuan tetap berhak mengelola bisnis tersebut. Perempuan juga dilarang bekerja di pabrik sebelum pukul 6 pagi dan setelah pukul 5 sore.
Perempuan diizinkan bekerja di pabrik tanpa mendapatkan diskriminasi upah dan kontrak dengan buruh laki-laki. Dalam lini produksi, perempuan yang bekerja tidak kurang 10 orang dalam setiap shift. Perusahaan juga harus menyediakan pakaian yang aman dan layak bagi pekerja perempuan.
Al Tejekhifi menyimpulkan perlunya perekrutan, pelatihan, dan rehabilitasi pekerja perempuan. Hal ini membutuhkan kerjasama antar pemerintah dan sektor swasta. Dengan demikian akan memperbanyak masuknya pekerja perempuan di sektor industri.
Presiden Yayasan Parfum dan anggota Kadin Mekkah Areej Abdul Latif Jastaniah menyambut baik keterlibatan perempuan di industri. Dia mengatakan perempuan telah terbukti memiliki peran positif dalam sektor industri karena dengan masuknya perempuan justru mampu meningkatkan produksi.
Dia mendorong perempuan masuk ke sektor industri baik sebagai investor maupun pekerja. Dia mengharapkan agar hak-hak perempuan bisa dilindungi.
Direktur Departemen Nasihat Keuangan Bank Pembangunan Islam (IDB) Abdel Moneim Al Aadas menegaskan masuknya wanita di sektor industri membutuhkan dukungan keuangan.Proporsi investor perempuan di sektor industri tidak melebihi 1 persen dan partisipasi umumnya tidak lebih dari 5 persen. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya