Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya pertumbuhan harga hunian residensial sepanjang kuartal III-2017. Meski harga rumah naik, pertumbuhan mengalami perlambatan.
Dikutip dari bi.go.id, Selasa, 14 November 2017, harga properti naik sebesar 0,5 persen dalam pada kuartal III tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama 2016. Tetapi, kenaikan ini melambat jika dibandingkan dengan kuartal II 2017 yang tumbuh sebesar 1,18 persen.
Kenaikan harga properti ini terjadi di semua tipe rumah terutama kelas menengah. Berdasarkan wilayah, kenaikan tertinggi terjadi di Bandar Lampung.
Secara tahunan, indeks harga properti kuartal III 2017. tumbuh sebesar 3,32 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 3,17 persen (yoy).
Sementara itu, volume penjualan properti residensial juga mengalami peningkatan sebesar 2,58 persen (qtq). Meski demikian, pertumbuhan tersebut masih melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,61 persen (qtq).
Data BI mencatat kenaikan harga terjadi pada semua tipe rumah dengan kenaikan tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil sebesar 5,73 persen (yoy). Sementara berdasarkan wilayah, kenaikan harga rumah tertinggi terjadi di Surabaya dengan kenaikan 6,86 persen (yoy).
Naiknya harga rumah di ibukota Jawa Timur itu dipicu oleh pembangunan Jalan LIngkar Luar Barat (JLBB) yang membentang dari utara ke selatan dan menghubugkan banyak fasilitas strategis di Surabaya.
Beberapa penyebabnya yaitu masih terbatasnya permintaan terhadap rumah hunian, di samping faktor suku bunga KPR yang relatif masih tinggi.
Sebagian besar pengembang, sebanyak 56,75 persen, masih menggunakan dana internal perusahaan sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan properti residensial.
Sementara sebanyak 76,42 persen konsumen menyatakan fasilitas KPR masih menjadi pilihan utama dalam melakukan transaksi pembelian properti residensial.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya