Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Presiden Joko Widodo (Youtube/Sekretariat Presiden)
Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan para menteri untuk mengantisipasi libur panjang di akhir Oktober 2020 mendatang. Presiden berharap libur panjang yang diselingi dua hari cuti bersama itu tidak akan memicu kenaikan kasus Covid-19.
Jokowi mengintatkan hal ini berkaca dari libur panjang sebelumnya. Saat itu, lonjakan kasus positif Covid-19 setelah liburan usai.
" Kita memiliki pengalaman kemarin, libur panjang yang pada satu setengah bulan yang lalu mungkin, setelah itu terjadi kenaikan yang agak tinggi," ujar Jokowi, disiarkan lewat channel YouTube Sekretariat Presiden.
Jokowi menyatakan kondisi ini perlu mendapat perhatian bersama. Sejumlah langkah perlu disiapkan agar tidak terjadi lonjakan penambahan kasus.
" Ini perlu kita bicarakan agar kegiatan libur panjang dan cuti bersama ini jangan sampai berdampak pada kenaikan kasus Covid-19," kata dia.
Untuk diketahui libur panjang yang dimaksud presiden adalah tiga hari libur yang akan berlangsung mulai 28 Oktober sampai 1 November 2020. Pada tanggal 28 dan 30 Oktober, pemerintah memutuskan cuti bersama untuk Pegawai Negeri Sipil berkaitan dengan perayaan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada Kamis, 29 Oktober 2020.
Sementara tanggal 31 Oktober dan 1 November bertepatan dengan libur akhir pekan.
Selanjutnya, Jokowi memaparkan data terkini dari Covid-19. Per 18 Oktober 2020, kasus aktif Covid-19 di Indonesia sebanyak 17,69 persen.
Angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata dunia. Saat ini, kasus aktif Covid-19 global sekitar 22,54 persen.
" Ini bagus sekali, kita 17,69, dunia 22,54," kata Jokowi.
Kemudian, terjadi penurunan tingkat kematian dari 3,94 persen menjadi 3,45 persen. Sedangkan tingkat kesembuhan di Indonesia sekitar 78,84 persen, lebih tinggi dari rata-rata dunia.
" Saya kira hal hal seperti ini yang harus terus kita perbaiki sehingga kita harapkan trend kasus di Indonesia akan semakin membaik," ucap Jokowi.
Selain itu, Jokowi juga mengingatkan para menteri untuk berhati-hati dalam menyampaikan informasi ke publik. Dia mengatakan tidak semua informasi bisa disampaikan ke publik.
" Tidak semuanya perlu kita sampaikan ke publik. Harga ini (vaksin) juga tidak harus kita sampaikan ke publik," kata dia.
Meski demikian, Jokowi meminta para menteri untuk memberikan informasi yang jelas. Misalnya dalam hal kehalalan, kualitas, serta distribusi vaksin agar tak muncul penolakan.
Tak hanya itu, Jokowi juga meminta agar para menteri tidak tergesa-gesa dalam menyampaikan informasi. Mengingat kondisi masyarakat saat ini sedang sulit.
" Kalau komunikasinya kurang baik, bisa kejadian kaya Undang-Undang Cipta Kerja," kata dia.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Dream - Presiden Joko Widodo meminta para menteri menyiapkan rencana pengadaan vaksin Covid-19 secara matang. Di dalam rencana tersebut, kementerian terkait juga diingatkan untuk mengatur dengan jelas skema pembagian skema vaksinasi antara gratis dengan mandiri atau berbayar.
" Kalau menurut saya, untuk vaksin yang gratis untuk rakyat, itu urusannya Menkes (Menteri Kesehatan). Untuk yang mandiri, untuk yang bayar, itu urusannya BUMN," ujar Jokowi dalam rapat terbatas virtual, disiarkan melalui channel YouTube Sekretariat Presiden.
Jokowi mengingatkan rencana tersebut juga diatur dengan jelas. Sehingga ketika pelaksanaan vaksinasi tidak menimbulkan masalah.
" Ini menjadi jelas, kalau tidak seperti ini nanti siapa yang tandatangani menjadi tidak jelas, siapa yang tanggung jawab," kata Jokowi.
Selain itu, Jokowi kembali mengingatkan para menteri tidak menganggap mudah implementasi vaksinasi. Dia mengatakan titik kritis dari rencana vaksinasi berada di implementasi.
" Seperti apa prosesnya, siapa yang akan disuntik vaksin terlebih dahulu," kata dia.
Penyampaian informasi ke publik juga harus disiapkan dengan betul. Terutama untuk pihak mana saja yang gratis atau berbayar.
" Dijelasin betul, harus detail, ini jangan sampai nanti dihantam oleh isu, dipelintir, kemudian kejadiannya masyarakat demo lagi," kata dia.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya