Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Sebagai negara kepulauan, Indonesia kerap menghadapi kesulitan mencapai pelosok negeri ini untuk mendistribusikan daging segar yang ketahanannya memang terbatas.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat Indonesia kini dimudahkan dengan adanya fasilitas kurban dalam bentuk kornet. Tugas mendistribusikan pun bisa dilakukan oleh lembaga tertentu seperti Rumah Zakat.
" Kami ingin daging-daging kurban ini bisa dimanfaatkan secara optimal, tidak dipaksakan habis dalam 3 hari sehingga ada yang dapat banyak, tapi justru di tempat lain tidak bisa merasakan daging kurban," ujar Direktur Yayasan Rumah Zakat Nur Effendi saat ditemui di Jakarta.
" Untuk menghindari kemubaziran dan bisa terjangkau di daerah lainnya, kami olah daging kurban ini menjadi kornet. Kami bisa distribusikan hingga ke perbatasan. Ini praktis, merata dan menjangkau pelosok," tambahnya.
Menurut Effendi, harga kurban dengan kornet ini tidak jauh berbeda dengan harga kurban daging segar. Untuk tahun 2015, pihaknya telah mematok kurban kambing sebesar Rp 2,1 juta, sapi ritel seharga Rp 2,2 juta, dan sapi utuh seharga Rp 2,3 juta.
" Harga tersebut sudah termasuk biaya proses kornetisasi dan pendistribusian," ungkapnya.
Effendi mengklaim harga patokannya termasuk murah karena Rumah Zakat telah bekerja sama dengan petani di daerah-daerah untuk beternak hewan kurban. Hal ini guna memudahkan pendistribusian sekaligus menekan biaya pemeliharaan hewan tersebut.
" Mengapa murah? Konsepnya pemberdayaan. Jadi kita tahu harga karena sudah diternak dari jauh hari dengan bantuan petani. Insya Allah kualitas pun terjaga, berat badan hewan ternak sesuai dengan harga yang kita tetapkan. Di Nusa Tenggara itu, ternak kita dilepaskan di alam bebas, jadi Insya Allah hewan-hewannya sehat," tandasnya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya