Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Pelaku pasar tampaknya mulai semakin khawatir jelang pertemuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserves. Wacana kenaikan suku bunga acuan The Fed dikhawatirkan akan menarik dana asing dari dalam negeri.
Sinyal kekhawatiran itu setidaknya terlihat dalam enam hari perdagangan Bursa Efek Indonesia. Pemodal asing terus melakukan aksi jual saham dengan nilai cukup signifikan.
Pada penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 16 September 2014, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 14,39 poin (0,28%) ke level 5.130,5. Padahal pada sesi pembukaan, IHSG sempat naik tipis 6,89 poin (0,13%).
Terseretnya IHSG ke zona hijau dipicu pelemahan harga saham dari 174 emiten di BEI. Penguatan harga saham dari 120 emiten tak sanggup mempertahankan laju penguatan IHSG.
Transaksi perdagangan saham kali ini mencapai Rp 4,23 triliun dengan 42,31 miliar efek yang beralihtangan.
Pemodal asing kembali melakukan aksi jual saham dengan nilai mencapai sekitar Rp 515 miliar.
Meski melemah, sejumlah indeks sektor saham masih bisa bertahan di zona merah. Dua indeks saham komoditas, pertambangan dan perkebunan tercatat menguat 0,13 persen dan 0,12 persen. Begitu pula dengan saham perdagangan dan barang konsumsi.
Tekanan sentimen global dan regional juga memaksa Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) dan Jakarta Islamic Index (JII) terjun ke zona merah.
Indeks ISSI sore ini ditutup melemah 0,28 poin (0,17%) ke level 167,75. Indeks ISSI sempat menguat ke level tertinggi 168,58. Selanjutnya, ISSI lebih banyak berada di zona merah.
Sebanyak 118 emiten syariah mengalami koreksi harga saham sementara 68 lainnya bergera menguat.
Nilai transaksi perdagangan saham syariah kali ini mencetak angka Rp 2,73 triliun dari aksi jual beli 23,41 miliar saham.
Di jajaran saham bluechips syariah, indeks JII juga bergerak melemah 0,59 poin (0,09%) ke level 691. Indeks JII sempat memberikan harapan setelah mampu bertahan di zona hijau jelang penutupan perdagangan.
Sayangnya, aksi jual pemodal di BEI membuat indeks JII ikut tersungkur ke zona merah. Tercatat 17 emiten unggulan syariah mengalami koreksi harga sementara hanya 9 emiten yang menguat.
Pelemahan indeks saham memang tak hanya dialami pasar modal Indonesia. Kecuali Kospi Korea Selatan, seluruh indeks saham utama di kawasan regional bergerak melemah. Nikkei Jepang dan Hang Seng masing-masing melemah 0,23 persen dan 0,91 persen. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya