Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menteri-menteri Baru Di Kabinet Kerja Jokowi (Antarafoto.com/Yudho Mahatma)
Dream - Mantan Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution resmi menjadi panglima tim ekonomi Kabinet Kerja menggantikan Sofyan Djalil. Karir birokrasi selama di pemerintah sejak 1994 membuatnya tak asing dengan bidang pekerjan yang akan diembannya.
Namun terpilihnya mantan Dirjen Pajak ini justru terjadi saat dunia tengah dilanda perlambatan ekonomi. Rupiah yang terpuruk serta ambruknya bursa saham Indonesia akibat larinya dana asing.
Berbicara dalam Serah Terima Jabatan Menko Perekonomian di kantornya, Darmin Nasution mengakui perekonomian Indonesia saat ini memang sedang lemah. Namun kondisi ini sebetulnya kerap melanda Indonesia.
" Ekonomi Indonesia itu, sejak zaman Pak Harto pun selalu bergejolak. Walaupun pertumbuhannya relatif lebih tinggi, sekitar 7-8 persen tapi transaksi berjalannya hampir selalu defisit, walaupun kecil, misalnya 0,6 persen. Jadi itu tidak dianggap terlalu beresiko," ujar Darmin seraya mengakui kondisi ekonomi dunia saat ini sudah berubah banyak.
Dalam catatan Darmin, Indonsia setidaknya sudah pernah mengalami gejolak ekonomi pada masa Orde Baru. Gejolak pertama terjadi pada 1983 dan terulang lagi pada 1994.
" Waktu 1983 itu pemerintah melakukan perombakan besar-besaran kepada strategi, dari orientasi ke dalam jadi orientasi ke luar. Yang saya ingat, nggak sampai dua tahun sembuh itu defisitnya," kata Darmin.
Sedangkan pada 1994, defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 3 persen. " Dicoba segala macam cara tapi nggak mampu lagi menyembuhkan, makanya datanglah krisis 1998," ungkap Darmin.
Kini, lanjut Darmin, dengan pertumbuhan ekonomi 4,67 persen Indonesia masih jauh dari krisis. " Tapi ekonomi Indonesia sedang tidak nyaman," tandasnya.
Untuk memperbaiki kondisi ekonomi seperti itu, Darmin ingin ke depan kementeriannya mesti lebih akurat dalam mengolah data dan senantiasa melakukan kalibrasi sebelumnya. " Semua dimulai dari data yang akurat, kalau itu salah kesimpulannya juga salah," katanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya