Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Pergantian sejumlah menteri Kabinet Kerja Jokowi tampaknya tak diacuhkan pelaku pasar. Rupiah yang makin anjlok dan buruknya kondisi bursa regional justru semakin membenamkan indeks saham acuan Bursa Efek Indonesia (BEI).
KOndisi semakin mengkhawatir setelah pemodal asing makin getol melepas dananya di pasar modal Indonesia. Dana sekitar Rp 700 miliar hari ini kabur dari BEI.
Pada penutupan perdagangan BEI, Rabu, 12 Agustus 2015, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terpuruk 5,167 poin (3,52%) ke level 141,494.
ISSI bahkan sempat terjun bebas ke level terendahnya di 141,050. Sepanjang perdagangan ISSI menghabiskan waktunya berkutat di zona merah dengan level tertinggi di 145,266.
Kepanikan pasar akan munculnya perang mata uang Yuan dan Dolar AS membuat saham-saham syariah terpelanting. Sebanyak 184 emiten syariah jatuh ke zona merah. ISSI hanya menyisakan 17 emiten di zona positif dan 35 lainnya bertahan stagnan.
Transaksi perdagangan saham syariah mencapai Rp 3,18 triliun dengan 38,34 miliar berpindatangan.
Aksi terjun bebas juga menimpa saham-saham bluechips syariah. Tergiring pelemahan harga saham dari 28 emitennya, Jakarta Islamic Index (JII) ditutup melemah 22,435 poin (3,69%) ke level 585,317.
Indeks JII hanya meninggalkan 1 emiten bluechips di zona positif dan 1 lainnya bertahan stagnan.
Satu-satunya bluechips syariah yang menguat itu adalah LPKR dengan kenaikan harga Rp 10 (0,93%) menjadi Rp 1.080 per saham.
Sebaliknya, saham-saham favorit investor justre tenggelam oleh aksi jual investor. UNVR memimpin top losser usai melemah Rp 1.500 per saham. Disusul LPPS yang turun Rp 1.450, AALI Rp 575, INTP Rp 450, dan SMGR Rp 400 per saham.
Laju bursa saham Indonesia di pertengahan pekan ini memang menjadi yang terburuk di kawasan Asia Pasifik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 143,100 poin (3,10%) ke level 4.479,491.
Lantai bursa ramai oleh aksi jual beli investor dengan dana mengalir Rp 5,83 triliun. Namun sekitar Rp 700 miliar diantaranya merupakan dana asing yang ditarik dari pasar modal Indonesia.
Koreksi terdalam dialami emiten di sektor perkebunan yang turun 4,66 persen. Disusul infrastruktur 3,67 persen, dan industri dasar 3,66 persen.
Dari pasar keuangan, perang mata uang telah membuat dolar semakin perkasa. Kurs rupiah yang sempat menyentuh 13.911, sore ini ditutup melemah 164 poin (1,21%) ke level 13.771 per dolar AS.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya