Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pemerintah Tak Mau Pelemahan Rupiahb Disamakan Dengan Krisis 1998. (FOTO: ANTARAFOTO)
Dream – Nilai tukar Dolar AS yang semakin perkasa membuat masyarakat mulai membanding-bandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter yang menghancurkan ekonomi INdonesia di 1998. Anggapan tersebut langsung dipatahkan pemerintah.
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengimbau masyarakat untuk tak membandingkan kondisi kurs rupiah saat ini dengan kondisi Krismon 1998. Alasannya kondisi ekonomi Indonesia saat ini sudah jauh berbeda.
Dikutip dari Liputan6.com, Selasa 4 September 2018, Darmin mengakui nilai tukar rupiah saat ini dan tahun 1998 memang sama-sama berada di level Rp14 ribu. Namun pada 1998, kurs dollar AS lompat dari level Rp2.800 menjadi Rp14 ribu.
Sementara pergerakan dollar AS di tahun ini menguat dari level Rp13 ribu menjadi Rp14 ribu.
“ Maksud saya, cara membandingkan juga, ya, dijelaskanlah. Nggak sama kenaikan dari Rp13 ribu ke Rp14 ribu sekian dengan (kenaikan) dari Rp2.800,” kata Darmin di Jakarta.
Dia heran dengan banyaknya pihak yang membandingkan nilai tukar rupiah saat ini dengan krisis 1998.
“ Eh, persoalan tahun 1998 itu enam kali lipat itu,” kata eks gubernur Bank Indonesia (BI).
Darmin mengatakan kondisi Indonesia jauh lebih baik daripada pada 1998. Tapi, dia mengakui ada salah satu kelemahan yang dialami Indonesia adalah soal transaksi berjalan yang defisit.
“ Kelemahan kita hanya transaksi berjalan yang defisit. Berapa? 3 persen,” kata dia.
Darmin mengatakan defisit berjalan saat ini lebih kecil daripada tahun 2014 yang mencapai 4,2 persen. Tak hanya itu, angkanya jauh lebih kecil daripada Brazil, Turki dan Argentina.
“ Coba yang lain, inflasi. Di Argentina, berapa? Sekarang 30 persen. Setahun yang lalu 60 (persen). Kita? Malah deflasi. Pertumbuhan oke. Kita 5 persen,” kata dia.
Darmin menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik daripada tahun 1998. Untuk masalah defisit, diakui defisit transaksi berjalan ini memang ada.
“ Tapi nggak setinggi 2014, tahun 1994-1995, tidak setinggi 1984. Tolong membacanya, membandingkannya yang fair,” kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Septian Deny)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya