Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dolar AS Menjadi Buah Bibir Masyarakat Belakangan Ini. (Foto: Shutterstock)
Dream – Penguatan dolar AS menjadi perhatian belakangan ini. Banyak pihak cemas situasi ini bisa mengganggu perekonomian nasional.
Industri otomotif pun turut mewaspadai apresiasi dolar AS. Salah satu produsen yang telah menyiapkan antisispasi dampak jangka panjang akibat situasi ini adalah Toyota.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Edward Otto Kanter, mengatakan, penguatan dolar terhadap rupiah untuk jangka pendek belum bisa dirasakan secara langsung.
Tapi, untuk jangka menengah dan panjang, Edward mengatakan pihaknya memikirkan keseluruhan secara detail. “ Paling berpengaruh? Ya, 15 persen itu tadi (bahan baku impor),” kata Edward, dikutip dari Liputan6.com, Jumat 7 September 2018.
Untuk menyiasati pelemahan rupiah, dia berkata, Toyota mencoba melakukan efisiensi aktivitas produksi. Sebab, nilai tukar dolar ini cukup berpengaruh terhadap biaya produksi.
“ Kalau material impor, ya, naik dong. Di-cover sama aktivitas tadi. Dengan lebih mudah kerja, berarti lebih cepat kerjanya kalau di operasi. Kami mencobga teknologi ramah lingkungan sekaligus lebih efisien energinya,” kata dia.
Menurut Edward, Toyota juga mensubstitusi bahan baku produksi impor dengan produk lokal. Contohnya, baja. “ Kami mengembangkan steel dengan PT Krakatau Steel. Jadi, bisa dipakai (untuk produksi),” kata dia.
Sementara itu, Suzuki cenderung menahan harga sepeda motornya. Marketing 2W Section Head Suzuki Indonesia Sales, Banggas F. S. Pardede, mengatakan, pelemahan rupiah ini bisa berpengaruh terhadap penjualan sepeda motornya.
“ Pasti ada pengaruhnya, sekira 1-2 persen,” kata Banggar di Jakarta.
Meskipun dolar AS berpotensi mengusik penjualan, dia berkata pihaknya belum melakukan koreksi harga jual dalam waktu dekat.
“ Kami belum berencana untuk menaikkan harga sampai akhir tahun ini,” kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Arief Aszhari, Septian Pamungkas)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya