Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Burj Khalifa, Menara Tertinggi Di Dunia
Dream - Hampir setahun yang lalu, PT Pertamina (Persero) menyuguhkan mimpi bagi masyarakat Indonesia untuk memiliki gedung tertinggi di dunia. Digadang sebagai menara pencakar langit ketiga tertinggi di dunia, Pertamina Energy Tower disiapkan mengalahkan Menara Kembar Petronas.
Menjulang setinggi 555 meter di atas lahan seluas 7 hektare, Pertamina Energy Tower ini akan memiliki 99 lantai. Biaya Rp 8 triliun harus disiapkan untuk menyiapkan proyek ini.
Sampai saat ini, masyarakat Indonesia khususnya penduduk Jakarta, memang belum bisa melihat gedung tertinggi ketiga di dunia ini. Hal ini bisa dimaklumi karena proyek ini dijadwalkan baru kelar pada 2020.
Di saat ini, Indonesia tengah membangun sejarah menara pancakar langit, di belahan negara lain justru mimpi memiliki gedung-gedung tertinggi dunia harus dikubur dalam-dalam.
Proses pembangunan terpaksa berhenti karena keringnya dana. Bisa juga mimpi dikubur akibat adanya gejolak politik atau peristiwa besar yang membuat pekerjaan berhenti di tengah jalan.
Mengutip laporan Council on Tall Building and Urban Habitat (CTBUH) seperti dikutip businessinsider, Jumat, 28 November 2014, setidaknya terdapat 10 pembangunan menara tertinggi yang tak pernah terwujud.
Laporan CTBUH menjelaskan sebuah menara pencakar langit ini dinilai tak pernah terwujud jika proses pembangunan sudah dimulai namun berhenti di tengah jalan. Selain itu, tak ada informasi proses pembangunan akan kembali dilanjutkan.
Di jajaran teratas sebagai menara pencakar langit yang berakhir sebatas mimpi adalah Nakheel Tower di Dubai Uni Emirate Arab. Gedung ini digadang menjulang 1 kilometer di atas bumi.
Diluncurkan pada 2008, proyek ini terhenti pada 2009. Proposal untuk kembali melanjutkan pembangunan tak pernah muncul. Hingga 5 tahun terakhir, mimpi pencakar langit baru di Dubai ini tak tersentuh sama sekali.
Tak cuma satu, Dubai masih memiliki tiga proyek serupa yang cuma berakhir menjadi onggokan gedung tak berwujud. Ketiganya adalah Burj Al Alam yang dirancang menjulang 510 meter namun berhenti dibangun sejak 2009.
Dua proyek prestisius lainnya adalah Lighthouse (402 meter) yang berhenti dibangun pada 2009 dan Lam Tara Tower 1 (454 meter) yang terhenti pembangunannya pada 2010.
Masih dari kawasan Arab, Qatar juga mengubur mimpinya membangun Doha Convention Tower yang dirancang menjulang 551 meter. Sempat dimulai dibangun 2007, proyek ini berhenti pada 2012.
Selain dari daerah Timur Tengah, dua menara gedung tinggi di kawasan Asia juga tak jadi menghiasi langit. India Tower yang rencananya dibangun di Mumbai setinggi 700 meter berhenti dibangun pada 2011. Proyeknya sendiri mulai dijalankan pada 2010.
Dari China, terdapat proyek Fairwell International Center yang mulai dibangun pada 1997. Di tahun yang sama, menara pencakar langit setinggi 397 meter ini tinggal sejarah, tak pernah terwujud.
Terakhir adalah Rusia yang harus melupakan mimpinya membangun dua menara penakluk langit tanah bekas Uni Soviet.
Russia Tower yang dirancang berdiri megah setinggi 612 meter harus dihentikan pembangunannya pada 2008.
Sementara ini, mimpi pemimpin Uni Soviet membangun menara Palaca of Soviet harus berkalang debu. Ambisi Stalin terkubur setelah menara setinggi 497 meter ini tak bisa mengukir sejarah besar Rusia.
Mulai dibangun pada 1937, proyek ini terhenti pada 1941 setelah NAZI secara membabi buta menyerang Uni Soviet.
Bukan hanya negara berkembang yang gagal mewujudkan mimpinya membangun menara pencakar langit. Negara sekelas Amerika Serikat pun harus menelan ludah karena gagal membangun gedung tertinggi.
Adalah The Chicago Spire yang kala itu digadang menjadi gedung tertinggi keempat di dunia. Krisis keuangan yang melanda Negara Paman Sam membuat gedung yang mulai dibangun pada 2007 harus berhenti setahun kemudian.
Bukannya gedung cantik yang dilihat mata, pengembang Garrett Kelleher justru harus menghadapi tuntutan senilai US$ 77 juta.
Akankah nasib Pertamina Tower Energy seperti 10 menara pencakar langit dunia ini? Semoga hal itu tidak terjadi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya