Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Indeks saham syariah di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya tak sanggup keluar dari zona merah. Koreksi saham emiten pertambangan dan berkurangnya aksi beli asing menyulut pelemahan akhir November ini.
Pelaku pasar seolah mulai berhati-hati menimbang dampak dari penurunan harga minyak mentah dunia. Terbukti emitan tambang kali ini mencetak pelemahan terdalam.
Pada penutupan perdagangan BEI, Jakarta, Jumat, 28 November 2014, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) turun tipis 0,02 poin (0,01%) ke level 166,10.
Penguatan harga saham dari 103 emiten jelang penutupan perdagangan saham tak cukup kuat mengantar ISSI ke zona merah. Sebaliknya, ISSI justru mengikut arah pelemahan dari 89 emiten dan 49 emiten yang bergerak stagnan.
Transaksi perdagangan melibatkan 54,73 juta saham syariah dengan perputaran dana mencapai Rp 3,71 triliun.
ISSI sama sekali tak mampu beranjak dari zona merah. Level terendah ISSI disetak di posisi 165,46 sementara tertingginya di 166,10. Pada penutupan kemarin, ISSI bertengger di level 166,12.
Meski melemah, sepanjang pekan terakhir November, ISSI didominasi pergerakan positif. ISSI sempat bertengger di level 166,64 ada awal pekan ini.
Kondisi tak jauh berbeda juga dialami emiten-emiten bluechips syariah. Indeks Jakarta Islamic Index (JII) bergerak turun 1,69 poin (0,25%) ke level 683,01.
Sebanyak 16 emiten unggulan syariah bergeser ke zona merah sementara 12 lainnya sanggup menguat bersamaan dengan rebound Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pada penutupan jelang libur akhir pekan ini, IHSG berhasil berbalik menguat dengan menutup transaksi di level 5.149,88 atau naik tipis 4,57 poin (0,09%).
Penguatan jelang penutupan perdagangan ini terjadi setelah 157 emiten kompak melaju di zona hijau. Namun 146 emiten lainnya masih tertinggal di teritori negatif.
Pasar modal Indonesia akhir pekan ini dijejali oleh 89,73 juta saham yang diperdagangkan pelaku pasar. Dana yang bergulir di lantai bursa sendiri mencapai Rp 5,35 triliun.
IHSG sebetulnya sempat membuat pelaku pasar khawatir setelah dibuka melemah ke level 5.139,64. IHSG bahkan sempat turun ke level 5.126,98.
Emiten porperti kali ini menikmati aksi beli pemodal dengan mencetak kenaikan 1,50 persen. Diikuti perkebunan 0,31 persen, industri aneka 0,28 persen, dan keuangan 0,24 persen.
Dari kawasan Asia, indeks saham utama bergerak variatif. Indeks Hang Seng sore ini melemah 0,11 persen sementara Nikkei Jepang naik 1,23 persen.
Sementara nilai tukar rupiah mengalami depresiasi dengan melemah 21 poin (0,17%) ke lebel 12.196 per dolar AS. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya