Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Vodafone Qatar mengumumkan sahamnya melonjak hingga 22 persen setelah mengubah segala transaksinya ke sistem syariah. Perusahaan afiliasi dari perusahaan asuransi Inggris ini meraup untung tersebut dalam 8 hari setelah beralih menggunakan sistem berlandaskan prinsip syariah.
Seperti dikutip dari Zawya, Selasa, 24 Maret 2015, Kepala Keuangan Vodafone Qatar, Steve Walters menyatakan telah melakukan refinancing utang sebesar US$ 330 juta yang merupakan komitmen jangka panjang perusahaan.
" Langkah ini permanen. Vodafone Qatar bermaksud mengubah kebijakan dengan standar syariah. Hal ini akan mempengaruhi semua kegiatan komersial dan keuangan masa depan," jelasnya.
Melihat kesuksesan yang diraih Vodafone, banyak perusahaan yang masih menggunakan sistem konvensional berpikir untuk mulai beralih ke sistem syariah. Sistem keuangan ini menjauhkan dri dari pembayaran tanpa bunga dan spekulasi moneter.
Memang harus diakui, alat-alat keuangan Islam seperti sukuk atau obligasi syariah lebih mahal untuk digunakan dibandingkan instrumen konvensional karena kompleksitas dan kurang akrabnya investor dengan produk syariah ini.
Dulu, ketersediaan instrumen syariah ini pun masih terbatas. Namun, sejalan berkembangnya sistem syariah ini, maka produknya pun semakin variatif, seperti pinjaman jangka pendek dan pembiayaan perdagangan.
Dengan sistem syariah ini, risiko perusahaan semakin berkurang, apalagi di tengah krisis ekonomi dunia. Dalam beberapa kasus, justru penerbitan sukuk bisa lebih murah dibandingkan obligasi konvensional.
Kepala Eksekutif Tadhamon Capital, Ahmed Hatam Sultan menyatakan penyempitan biaya banyak merugikan perbankan konvensional. Untuk itu, dia mengimbau sejumlah perusahaan agar mulai mengadopsi keuangan Islam ini.
Tadhamon International dimiliki konglomerat asal Yaman, Hayel Saeed Anam Group. Perusahaan ini sudah menentukan strategi jangka panjang dengan keuangan Islam.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya