Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Wisata Halal.
Dream – Pariwisata halal menjadi salah satu industri di sektor kepariwisataan yang diperhitungkan. Di Indonesia, potensi pariwisata halal menjadi besar dilihat dari Indonesia yang merupakan negara penduduk Muslim terbesar di dunia.
Potensi pariwisata halal telah terbukti, namun pengetahuan dan wawasan akan konsep pariwisata halal belum begitu menggaung di Tanah Air. Hal ini terlihat dari akomodasi tempat wisata di Indonesia yang belum optimal mendukung nilai-nilai Islam. Sebut saja musala yang kotor dan masih ada tempat yang menjual makanan dan minuman beralkohol.
“ Konsep pariwisata halal berarti segala sesuatu yang tidak membahayakan manusia dan lingkungan, yang sesuai dengan koridor aturan Islam,” kata Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB), Budi Faisal, di Bandung, dilansir dari keterangan tertulis yang diterima Dream, Kamis 18 Agustus 2016.
Budi mengatakan selama bagian-bagian pariwisata itu tidak bertentangan dengan prinsip Islam, mereka bisa dikatakan halal.
Menurut Budi, prinsip pariwisata halal pada dasarnya menarik bagi turis. Pertama, makanan yang disajikan terbukti sehat dan bersih. Kedua, tempat wisata tidak menyediakan makanan dan minuman beralkohol.
“ Otomatis meniadakan suasana tidak nyaman karena kehadiran orang-orang yang sedang mabuk,” kata dia.
Budi juga mengatakan wisatawan Muslim memiliki skala jumlah pengeluaran yang cukup besar. Saat berwisata, mereka memiliki jumlah pengeluaran yang cukup besar. Saat berwisata, mereka mengharapkan fasilitas dan layanan tidak melanggar prinsip Islam. Dia berharap konsep halal bisa diterapkan di Indonesia di semua lini destinasi wisata Indonesia.
“ Dari sisi pemasaran, kami harus memasarkan produk halal. Indonesia tepat karena mayoritas produknya halal dan peminatnya semakin banyak,” kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya