Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Sering marah atau mengumpat tentang pekerjaan di kantor banyak disebut sebagai tanda seorang pegawai sebentar lagi berhenti bekerja. Tapi, anggapan itu ternyata keliru.
Faktanya, para peneliti menemukan perasaan negatif yang dimiliki seorang pegawai sebetulnya berdampak sebaliknya.
Sebuah studi baru di Inggris, menemukan perasaan marah tidak selalu mendorong karyawan untuk berhenti dari pekerjaannya. Sebaliknya, malah bisa memotivasi mereka untuk bertahan.
Bagi karyawan yang memiliki ikatan kuat dengan tempat kerjanya, kemarahan justru akan membuatnya bertahan dengan harapan bisa memajukan perusahaan.
Para peneliti dari University of Cambridge, ini menyelidiki 'mitos' bahwa emosi positif menyebabkan hasil yang konstruktif, dan emosi negatif menghasilkan perilaku yang merusak.
Untuk melakukan hal ini, mereka fokus pada sebuah perusahaan besar di bisnis pelatihan dan sertifikasi pilot.
Tim peneliti mengevaluasi 135 karyawan di Amerika Serikat dan Inggris selama periode satu tahun. Tim peneliti bertanya tentang masalah umum - seperti jam kerja dan gaji, isu-isu terkait pekerjaan tertentu, dan apakah mereka ingin bertahan di atau keluar dari perusahaan.
Selain itu, para karyawan juga ditanya tentang apa yang 'membuat Anda merasa nyaman di pekerjaan,' 'membuat Anda merasa tidak dihargai sebagai pilot,' atau 'membuat Anda merasa dekat dengan instruktur pilot lainnya.' Dalam analisis berikutnya, para peneliti juga meneliti turnover staf perusahaan yang sebenarnya dalam enam bulan.
Ada Sisi Gelap...
© Dream
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 'sisi gelap' untuk emosi positif dan 'sisi terang' untuk yang negatif. Selain kemarahan, para peneliti juga menemukan rasa bersalah dan kebanggaan.
Dalam beberapa kasus, para peneliti menemukan bahwa emosi negatif menghasilkan efek yang diharapkan. Seperti ketika para pilot tidak memiliki ikatan kuat dengan pekerjaan mereka, kemarahan akan mendorong mereka untuk keluar.
Sebaliknya, mereka yang memiliki ikatan yang kuat dengan pekerjaan akan lebih cenderung untuk bertahan meski dalam kondisi penuh kemarahan.
Demikian pula, para peneliti menemukan kebanggaan, yang biasanya dikaitkan dengan kemungkinan bertahan di sebuah perusahaan, bisa membuat mereka yang tidak memiliki ikatan kuat dengan tempat kerja lebih cenderung untuk mempertimbangkan berhenti dari perusahaan.
Temuan ini menunjukkan bahwa generalisasi terkait dengan emosi positif dan negatif di tempat kerja sebagian besar adalah mitos.
" Studi ini menunjukkan bahwa kebijakan perusahaan yang dirancang untuk mempromosikan emosi positif atau meminimalkan emosi negatif mungkin sebenarnya tidak memiliki efek yang diinginkan," kata Jochen Menges, dosen perilaku organisasi di Cambridge Judge Business School dan profesor di Otto Beisheim School of Management di Jerman.
" Jadi, alih-alih berusaha untuk menekan emosi karyawan di tempat kerja, perusahaan malah dituntut mengadopsi praktik-praktik yang berusaha mendorong ikatan yang lebih kuat terhadap perusahaan."
(Sumber: Dailymail.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya