Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pendiri Dan CEO Brainy Bunch, Mohd. Fadhil Hashim. (Foto: Sinar Harian)
Dream – Nama “ Brainy Bunch” familiar di telinga orang-orang sebagai sekolah TK yang melibatkan anak-anak secara aktif. Tak hanya itu, sekolah ini bertaraf internasional.
Tapi, siapa sangka Brainy Bunch ini dulunya sekolah TK yang kecil.
Pendirinya, Mohd.Fadzil Hashim, punya tujuan yang mulia ketika mendirikan sekolah ini. Fadhil ingin melahirkan generasi muda yang berkualitas.
“ Saya ingin melahirkan generasi muda Islam yang berkualitas pada masa yang akan datang,” kata dia dikutip dari Sinar Harian, Rabu 7 Februari 2018.
Fadhil berkata metode pengajaran di Brainy Bunch ini menggunakan konsep Montessori. “ (Konsep ini) menjadi alternatif sistem pembelajaran Islam dengan Bahasa Inggris. Inilah yang melahirkan Brainy Bunch,” kata dia kepada Sinar Harian.
Mulanya Fadhil membeli TK kecil di Kajang, Malaysia, dengan harga 150 ribu ringgit (Rp520,39 juta). Lalu mengubahnya menjadi Brainy Bunch pada 2010.
Mengapa dia memilih usaha TK? Fadhil mengatakan TK memiliki potensi bisnis yang bagus karena saat itu sedang booming.
“ Saya melihat ada potensi yang baik untuk pendidikan prasekolah yang mendapatkan tempat dan berkembang pada masa itu,” kata dia.
Lalu, mengapa memilih nama “ Brainy Bunch”? Fadhil mengatakan nama itu dipilih karena dia ingin suatu merek yang membawa image Islami, fresh, dan go international.
Bahkan, dia melawat ke Australia untuk melihat model dan sistem pendidikan Montessori di negara itu. Tujuannya agar mendapatkan model dan sistem pembelajaran terbaik yang akan digunakan oleh Brainy Bunch.
“ Setelah tiga bulan mempelajari model dan kurikulum, membuat konsep, serta melatih tenaga pengajar, barulah kami memulai sekolah internasional. Kini kami menjadi sekolah Montessori yang pertama di Malaysia,” kata Fadhil yang sekaligus menjadi CEO Brainy Bunch.
Pada 2011, Fadhil membuka empat cabang di Puchong, Semenyih, Shah Alam, dan Damansara. Sekolah Brainy Bunch semakin berkembang.
Pada 2012, mereka membuka 10 cabang. 2013, ada 37 cabang yang dibuka di Lembah Klang, Pahang, Sabah, dan Serawak. Kini, per Januari 2018, Brainy Bunch memiliki 104 cabang di Malaysia, 2 di Indonesia dan 4 di Singapura.
Kini, Brainy Bunch membukukan pendapatan sebesar 39 juta ringgit (Rp139,21 miliar) selama delapan tahun beroperasi. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya