Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Proyek kereta super cepat Jakarta – Bandung ternyata berjalan tidak seperti yang diharapkan. Megaproyek yang diperkirakan menghabiskan biaya US$5,5 miliar, setara Rp 75 triliun, tersebut ternyata masih butuh pendanaan agar bisa terus berlanjut.
Kereta cepat ini dijadwalkan akan mulai beroperasi pada Mei 2019. Namun semua tergantung sangat bergantung pada pendanaan dari China Development Bank yang diharapkan akan menambah dana sebesar US$4,1 miliar pada Maret 2017.
Porsi alokasi dana itu setara dengan tiga perempat dari total biaya keseluruhan. Sisanya akan didanai oleh Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
“ Kami berharap line kereta cepat ini bisa selesai tepat waktu dan bisa mengangkut 25,000 penumpang setiap harinya,” ucap Mart Polman, managing director portal properti global Lamudi.
Tak hanya soal pendanaan, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga menemui kendala teknis di lapangan. Polman menyebut banyak masyarakat yang tanahnya terkena dampak pembangunan kontruksi proyek ini belum bisa dibebaskan.
Polman mengklaim, proyek sepanjang 143 kilometer ini akan mendatangkan keuntungan yang besar bagi negara, dan juga menjadi proyek infrastruktur kunci. Salah satunya adalah bertambahnya investasi mengingat investor selama ini cenderung menahan modalnya karena transportasi yang belum memadai.
Kalangan investor real estate investor juga menyambut baik proyek kereta cepat ini karena dapat mendongkrak nilai jual properti yang berada di dekatnya dan membuat Kota Bandung menjadi incaran banyak orang.
“ Kami juga sudah mencatat adanya peningkatan permintaan akan properti di Bandung baik dari sisi investor juga pembeli berpotensi,” ungkap Polman.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya