Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Lambatnya pelaksanaan vaksinasi untuk seluruh umat manusia di dunia akan berdampak mengerikan pada perekonomian dunia. Studo dari The Economist Intelligence Unit (EIU) memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) dunia akan menguap hingga US$ 2,3 triliun atau sekitar Rp 33 ribu triliun sepanjang 2022-2025.
Taksiran EIU dibuat dari sebuah permodelan yang menunjukan negara-negara dengan pencapaian tingkat vaksinasi di bawah 60 persen dari populasinya pada pertengahan tahun 2022 akan kehilangan total PDB tersebut. Angka kehilangan itu kurang lebih setara dengan PDB Perancis.
Mengutip laporan EIU, negara-negara emerging akan mengalami dua pertiga dari nilai kehilangan PDB dunia tersebut.
Jika dibagi per wilayah, negara-negara di kawasan Asia akan mengalam kawasan paling terdampak dengan poyeksi kehilangan mencapai US$ 1,7 triliun.
Sementara merujuk pada pembagian PDB dunia, negara-negara di kawasan Sub Sahara Afrika akan tercatat mengalami kerugian terbesar. Ditaksir angka kerugian mencapai 3 persen dari proyeksi PDB dunia sepanjang 2022-2025.
" Estimasi ini mengejutkan tetapi hanya menangkap sebagian peluang ekonomi yang terlewatkan, terutama dalam jangka panjang," tulis EIU dalam keterangan tertulisnya.
Dalam laporan tersebut, permodelan yang dibuat EIU tidak memperhitungkan dampak kebijakan lockdwon terhadap sekolah. Kebijakan ini sering kali tidak ada yang dilakukan mengingat pembelajaran jarak jauh di terapkan negara-negara berkembang.
Model perhitungan yang dibuat EIU menggunakan data internal mengenai proyeksi pelaksanaan vaksinasi di 200 negara di dunia dan prediksi pertumbuhan PDB. EIU pertama kami mendata negara-negara yang kemungkinan bisa menjalankan program vaksinasi Covid-19 dengan capaian 60 persen di pertengahan 2022 dan awal 2023.
Selanjutnya EIU juga memproyeksi negara-negara yang baru bisa capaian vaksinasi tersebut di tahun 2023 dan setelahnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya